0 : 1 = 0, 1 : 1 = 1, 1 : 0 = ~. Pengharapan tanpa pemberian tak akan menghasilkan apapun. Pemberian dengan pengharapan balik hasilnya sebanding dengan pemberian. Pemberian tanpa pengharapan balik akan memberikan hasil tak terhingga. Let's share and see what we get :)
Kamis, 31 Januari 2019
Catatan Seorang Pembelajar
Buku ini menjadi guru sebelum aku terjun aksi pada GUIM (Gerakan UI Mengajar) Angkatan 8. Banyak yang bisa dipelajari dari buku ini. Penulis buku merupakan pengajar dan panitian GUIM Angkatan 5 yang melakukan aksi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada tahun 2016. Banyak kisah yang mewarnai cerita dalam buku ini.
Ada panitia yang menemukan arti kebahagiaan dalam ceritanya, ada yang bertemu dengan murid yang berjanji untuk berubah menjadi lebih baik, ada pula yang berhasil keluar dari zona nyamannya di ibukota dan menemukan zona nyaman baru di wilayah aksinya.
Bagi orang yang tertarik dengan dunia pendidikan, buku ini sangat aku rekomendasikan. Terutama untuk orang yang memilih terjun langsung menangani masalah di masyarakat dan tidak sekadar protes dengan kebijakan pemerintah yang ada.
Selasa, 01 Januari 2019
33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan Ala Timothy D. Walker dalam Teach Like Finland
Dalam bukunya 'Mengajar Seperti Finlandia', Timothy D. Walker seorang guru Amerika yang pindah ke Finlandia membagikan 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan sesuai 5 bahan kebahagiaan, yaitu kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan, dan pola pikir.
1) Kesejahteraan
Bahan kebahagiaan pertama, yaitu kesejahteraan; intinya berbicara tentang bagaimana terpenuhinya kebutuhan pokok, sehingga tidur, makan, minum yang cukup, tersedianya pakaian dan tempat bernaung menjadi prasyarat bagi diri kita (guru) dan peserta didik di kelas kita. Terdapat 7 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan dalam bahan kebahagiaan ini :
a. Jadwal istirahat otak
Finlandia memiliki kebiasaan istirahat 15 menit setiap 45 menit pelajaran. Pada jam istirahat tertentu ini, biasanya siswa bermain keluar atau bersosialisasi dengan teman-teman mereka. Ini penting untuk mengistirahatkan otak siswa sehingga mereka lebih fokus selama pelajaran.
b. Belajar sambil bergerak
Selama ini, pembelajaran di sekolah-sekolah lebih banyak dilakukan secara duduk-duduk atau berdiri di depan kelas selama presentasi. Cara ini relatif kurang produktif. Akan lebih baik jika pengajar menawarkan 'energizer' atau 'ice breaking' selama pelajaran. Presentasi juga dapat dilakukan melalui strategi 'Galeri Berjalan' di mana para siswa berkumpul secara berkelompok kemudian mereka melakukan presentasi di beberapa titik di dalam kelas. Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 peran, yaitu sebagai presentan dan audience. Presentan diam di tempat dan menjelaskan pada audience kelompok lain. Sementara audience berjalan mengunjungi setiap kelompok untuk mendengarkan presentasi kemudian memberikan feedback.
c. Recharge sepulang sekolah
Tidak ada pekerjaan rumah di Finlandia, karena guru-guru di sana memahami pentingnya waktu luang terutama di malam hari untuk mengisi ulang tenaganya.
d. Menyederhanakan ruang
Biasanya di awal tahun ajaran, kita mengalokasikan waktu untuk menghias kelas; atau bisa juga di tengah tahun ajaran kita memajang hasil karya siswa di dinding-dinding kelas. Namun ternyata, membuat ruang kelas kita lebih rapi dan sederhana bisa lebih menghemat waktu dan mengurangi gangguan eksternal dalam proses belajar mengajar.
e. Menghirup udara segar
Siswa-siswa di Finlandia memerhatikan kualitas udara di dalam kelas sehingga mereka memiliki kebiasaan membuka jendela kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
f. Masuk ke alam liar
Masuk ke alam liar bukan berarti siswa diajak ke hutan untuk belajar. Ini bermakna mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat apa yang mereka pelajari secara lebih nyata. Sebagai guru, kita bisa memikirkan tentang tempat-tempat alami yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolah. Ini dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti menggunakan lapangan sebagai habitat suatu organisme, menanam kentang di beberapa titik di ruang kelas,menghijaukan sekolah melalui beberapa proyek, atau bahkan memelihara kecebong ketika mempelajari siklus hidup katak.
g. Menjaga kedamaian
Menjaga kedamaian berarti menjaga kelas dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Strategi ini dapat dimulai dengan membuat peraturan bersama siswa, seperti misalnya menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati lingkungan serta menjadi pendengar yang baik.
2) Rasa Dimiliki (sense of belonging)
Strategi di bawah ini digunakan untuk membudayakan suatu perasaan saling terhubung di kelas kita.
a. Mengenal setiap anak
Ini merupakan strategi untuk memberikan pesan bahwa kita (guru) mengenal siswa secara individual, bukan sekadar sekelompok anak. Caranya dapat dilakukan dengan menyapa nama mereka satu persatu, fist bumps, jabat tangan, atau high fives. Guru juga bisa meluangkan waktu untuk makan bersama siswa saat jam istirahat atau mengunjungi rumah siswa dan mengobrol dengan orang tua mereka di waktu-waktu tertentu.
b. Bermain dengan murid-murid
Strategi ini biasa dilakukan pada minggu pertama di tahun ajaran baru. Guru bermain dengan siswa dengan tujuan agar mereka merasa nyaman di sekolah sebelum kegiatan yang sebenarnya dimulai.
c. Merayakan pembelajaran mereka
Di Finlandia, pelajaran di kelas tidak hanya berupa pengetahuan tetapi juga keterampilan seperti kelas memasak. Siswa biasanya diberi waktu tambahan sekitar 15 menit untuk menikmati hasil masakan mereka sebagai bentuk merayakan pembelajaran mereka. Strategi ini bisa juga dilakukan untuk aktivitas seperti pembuatan laporan buku atau teks bacaan. Siswa diberikan waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan hasil pembelajaran mereka.
d. Mengejar mimpi kelas
Ini dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis proyek. Jadi guru dan siswa membuat suatu proyek bersama di mana setiap orang mendapatkan peran dan proyek yang dilaksanakan cukup realistik. Dalam buku ini, Tom memberikan contoh kegiatan Kemah Sekolah.
e. Menghapus perisakan (bullying)
Di sekolah Finlandia, terdapat semacam program anti bullying yang dinamakan Kiva. Inti dari program ini adalah siswa belajar untuk menawarkan solusi dari sebuah konflik yang lebih dari kata 'maaf' dan belajar merefeleksikan perilaku mereka.
f. Berkawan
Strategi ini berupa kolaborasi antarsiswa lintas angkatan. Seperti misalnya memasangkan siswa kelas 6 dengan kelas 1. Dengan begitu, siswa kelas 6 dapat merasa diberi tanggung jawab dan dipercaya untuk menjaga teman kecil mereka, serta belajar menjadi panutan.
3) Kemandirian
Anak-anak di Finlandia sudah terbiasa diajarkan untuk mandiri, seperti misalnya tidak diantar-jemput sekolah.
a. Mulai dengan kebebasan
Dalam buku ini, Tim memberikan contoh ketika para siswa diberikan kebebasan untuk menentukan strategi pengumpulan dana untuk kemah sekolah. Strategi ini lebih kepada memberikan tanggung jawab secara bertahap. Guru bisa memulai dengan memberikan kebebasan yang signifikan bukan larangan yang signifikan. Sekarang bukan saatnya lagi guru menjadi 'sage on the stage' atau 'bintang panggung', namun menjadi 'guide on the stage' atau pendukung yang berdiri di belakang mereka.
b. Meninggalkan batas
Strategi ini dapat dilakukan dengan cara berbicara kepada murid secara personal, bertemu dalam kelompok kecil, dan berkeliling menemui siswa.
c. Menawarkan pilihan
Hal yang perlu diingat dalam strategi ini adalah tugas seorang guru yaitu membuat hubungan antara minat siswa dan kurikulum. Contohnya dengan memberikan tugas yang lebih terbuka, misalnya untuk membuat laporan buku, siswa diperbolehkan memilih sendiri buku sesuai minat mereka.
d. Buat rencana bersama siswa anda
Strategi ini dapat dilakukan dengan cara menyusun suatu pembelajaran sepanjang minggu bersama siswa, di mana para siswa diberi suara kemudian masukan mereka digunakan untuk mempengaruhi arah pembelajaran. Ini juga dapat dilakukan dengan cara strategi instruksional dengan mengelompokkan hal yang saya Tahu (T), hal yang Mau saya tahu (M), dan hal yang saya Telah pelajari (T) atau TMT.
e. Buat jadi nyata
Di Finlandia terdapat PBL yang dinamakan 'Saya dan Kota Saya'. Dalam PBL ini, para siswa bermain peran dengan beragam profesi seperti walikota, reporter, agen penjualan dll. dalam suatu miniatur kota. Di sini para siswa mengalami secara langsung bagaimana gambaran kehidupan pada masyarakat yang sebenarnya.
f. Tuntutan tanggung jawab
Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan kualitas guru. Untuk menjadi seorang guru yang berkualitas, orang Finlandia harus memiliki gelar setara magister di bidang pendidikan kemudian dilanjutkan pelatihan selama 5 tahun untuk guru jenjang sekolah dasar. Di sana hanya memiliki sedikit universitas dengan program pengajaran.
4) Penguasaan
Salah satu bahan kebahagiaan adalah perasaan kompeten dalam area tertentu. Ada beberapa strategi untuk mengembangkan penguasaan dalam pembelajaran di dalam kelas, antara lain :
a. Ajarkan hal-hal mendasar
Di Finlandia, kurikulum dan buku paket tetap dipertahankan. Tetap bahwa kurikulum untuk melayani kegiatan, bukan sebaliknya. Yang perlu dimodifikasi adalah model pengajaran yang menginspirasi, seperti instruksi yang berbeda, ruang kelas yang responsif, dan pembelajaran berbasis proyek (PBL).
b. Gunakan buku pegangan
Ambil hal-hal baik dalam buku pegangan untuk meringankan beban perencanaan, namun jangan sampai buku paket menjadi 'majikan' yang harus diikuti seluruhnya.
c. Manfaatkan teknologi
Di Finlandia, integrasi teknologi bukanlah sebuah penekanan utama. Hanya kelas besar yang diperbolehkan membawa gawai namun mereka dapat meletakkan teknologi pada tempat yang tepat sebagai alat pembelajaran.
d. Memasukkan musik
Berdasarkan hasil penelitian di bidang Psikologi, latihan musik dapat memengaruhi sistem syaraf untuk menciptakan pelajar yang lebih baik. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan musik sebagai media pembelajaran, seperti menyanyikan lagu bersama-sama.
e. Menjadi pelatih
Strategi ini biasa dilakukan pada pembelajaran dengan metode 'Learning by doing', biasanya kelas keterampilan seperti misalnya di Finlandia terdapat kelas pertukangan. Cara terbaik untuk menguasai sesuatu adalah melalui latihan alam setting 'dunia nyata', seperti misalnya melakukan eksperimen langsung pada pelajaran IPA. Guru juga berperan seperti seorang pelatih, yang sebisa mungkin memberikan pujian namun dibatasi dan lebih menekankan pada masukan yang spesifik, jujur, dan konstruktif.
f. Buktikan pembelajaran
Strategi ini dapat dilakukan dengan evaluasi sumatif, seperti membuktikan jawaban mereka lewat pertanyaan yang sulit dan terbuka. Contoh pertanyaan : "bayangkan kamu diminta untuk mencari tahu apakah pasta gigi masuk asam atau basa. Berpikirlah seperti seorang ilmuwan, apa yang akan kamu lakukan?"
g. Mendiskusikan nilai
Di Finlandia, terdapat kebiasaan sebelum membagikan rapor di akhir semester, guru bercakap-cakap dengan setiap siswa mengenai nilai mereka. Biasanya guru akan memberitahukan nilai yang akan ditulis di rapor, kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberi tanggapan. Dalam strategi ini, siswa diajak merefleksikan pembelajaran mereka sendiri.
5) Pola Pikir
Pada bagian ini lebih fokus kepada strategi abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan) di mana ada ruang bagi setiap pengajar untuk tumbuh. Strategi ini merupakan kebalikan dari scarcity-minded (menekankan kelangkaan), di mana kemenangan seseorang akan berujung pada kekalahan orang lain. Dengan kata lain, bagian ini membahas tentang penerapan strategi 'kolaborasi' pada para pengajar bukan 'kompetisi'.
a. Mencari flow
Flow di sini artinya suatu aktivitas menyenangkan yang ketika dilakukan waktu terasa berjalan cepat. Guru dan sisswa dapat melakukan pekerjaan yang menantang, menarik, penuh tuntutan dan terarah pada tujuan. Dalam strategi ini, juga sebisa mungkin minimalkan distrakti seperti handphone atau obrolan dan pangkas budaya persaingan.
b. Berkulit tebal
Berkulit tebal di sini berarti guru harus percaya diri dengan keahliannya. Mereka juga harus tahan banting ketika mendapatkan kritik dari orang tua, dan mampu menjelaskan secara bertanggung jawab bahwa mereka adalah seorang 'ahli' di sekolah yang profesional, dan melihat dirinya seperti itu.
c. Kolaborasi lewat kopi
Guru-guru di Finlandia, sangat menekankan kolaborasi. Di waktu istirahat sambil 'ngopi' misalnya, guru-guru biasanya saling berdiskusi tentang cara meningkatkan mutu belajar mengajar.
d. Menyambut para ahli
Menyambut para ahli berarti mengundang guru lain ke kelas kita. Ini merupakan strategi yang juga menekankan kolaborasi. Guru bisa saling memberikan masukan terkait materi atau metode mengajar.
e. Melepaskan diri untuk berlibur
Para guru di Finlandia, menggunakan waktu liburan untuk benar-benar berlibur. Mereka sedikit sekali melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sekolah pada saat liburan. Mereka menggunakan waktu liburan secara profesional untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, penulis juga menyarankan bahwa liburan juga bisa dijadikan waktu terbaik untuk merefleksikan pekerjaan kita dan menemukan ide-ide baru yang menginspirasi yang dapat dimasukkan ke dalam kelas.
f. Jangan lupa bahagia
Sebenarnya kebahagiaan atau menjalani sesuatu dengan bahagia adalah inti dalam semua strategi yang dibahas dalam buku ini tentang kelas yang menyenangkan. Di beberapa negara, ada sekolah yanng mulai menerapkan semacam kurikulum kebahagiaan, yang berisi tentang life skills (keterampilan hidup) non-akademik, seperti kepenuhan diri, hubungan interpersonal, dan kesadaran diri (mindfullness).
Semoga strategi kelas yang menyenangkan ala Finlandia ini dapat menginsprirasi pendidikan Indonesia. Namun, tentunya ini tidak bisa diterapkan secara langsung dan tetap harus menyesuaikan dengan budaya di Indonesia.
1) Kesejahteraan
Bahan kebahagiaan pertama, yaitu kesejahteraan; intinya berbicara tentang bagaimana terpenuhinya kebutuhan pokok, sehingga tidur, makan, minum yang cukup, tersedianya pakaian dan tempat bernaung menjadi prasyarat bagi diri kita (guru) dan peserta didik di kelas kita. Terdapat 7 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan dalam bahan kebahagiaan ini :
a. Jadwal istirahat otak
Finlandia memiliki kebiasaan istirahat 15 menit setiap 45 menit pelajaran. Pada jam istirahat tertentu ini, biasanya siswa bermain keluar atau bersosialisasi dengan teman-teman mereka. Ini penting untuk mengistirahatkan otak siswa sehingga mereka lebih fokus selama pelajaran.
b. Belajar sambil bergerak
Selama ini, pembelajaran di sekolah-sekolah lebih banyak dilakukan secara duduk-duduk atau berdiri di depan kelas selama presentasi. Cara ini relatif kurang produktif. Akan lebih baik jika pengajar menawarkan 'energizer' atau 'ice breaking' selama pelajaran. Presentasi juga dapat dilakukan melalui strategi 'Galeri Berjalan' di mana para siswa berkumpul secara berkelompok kemudian mereka melakukan presentasi di beberapa titik di dalam kelas. Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 peran, yaitu sebagai presentan dan audience. Presentan diam di tempat dan menjelaskan pada audience kelompok lain. Sementara audience berjalan mengunjungi setiap kelompok untuk mendengarkan presentasi kemudian memberikan feedback.
c. Recharge sepulang sekolah
Tidak ada pekerjaan rumah di Finlandia, karena guru-guru di sana memahami pentingnya waktu luang terutama di malam hari untuk mengisi ulang tenaganya.
d. Menyederhanakan ruang
Biasanya di awal tahun ajaran, kita mengalokasikan waktu untuk menghias kelas; atau bisa juga di tengah tahun ajaran kita memajang hasil karya siswa di dinding-dinding kelas. Namun ternyata, membuat ruang kelas kita lebih rapi dan sederhana bisa lebih menghemat waktu dan mengurangi gangguan eksternal dalam proses belajar mengajar.
e. Menghirup udara segar
Siswa-siswa di Finlandia memerhatikan kualitas udara di dalam kelas sehingga mereka memiliki kebiasaan membuka jendela kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
f. Masuk ke alam liar
Masuk ke alam liar bukan berarti siswa diajak ke hutan untuk belajar. Ini bermakna mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat apa yang mereka pelajari secara lebih nyata. Sebagai guru, kita bisa memikirkan tentang tempat-tempat alami yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolah. Ini dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti menggunakan lapangan sebagai habitat suatu organisme, menanam kentang di beberapa titik di ruang kelas,menghijaukan sekolah melalui beberapa proyek, atau bahkan memelihara kecebong ketika mempelajari siklus hidup katak.
g. Menjaga kedamaian
Menjaga kedamaian berarti menjaga kelas dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Strategi ini dapat dimulai dengan membuat peraturan bersama siswa, seperti misalnya menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati lingkungan serta menjadi pendengar yang baik.
2) Rasa Dimiliki (sense of belonging)
Strategi di bawah ini digunakan untuk membudayakan suatu perasaan saling terhubung di kelas kita.
a. Mengenal setiap anak
Ini merupakan strategi untuk memberikan pesan bahwa kita (guru) mengenal siswa secara individual, bukan sekadar sekelompok anak. Caranya dapat dilakukan dengan menyapa nama mereka satu persatu, fist bumps, jabat tangan, atau high fives. Guru juga bisa meluangkan waktu untuk makan bersama siswa saat jam istirahat atau mengunjungi rumah siswa dan mengobrol dengan orang tua mereka di waktu-waktu tertentu.
b. Bermain dengan murid-murid
Strategi ini biasa dilakukan pada minggu pertama di tahun ajaran baru. Guru bermain dengan siswa dengan tujuan agar mereka merasa nyaman di sekolah sebelum kegiatan yang sebenarnya dimulai.
c. Merayakan pembelajaran mereka
Di Finlandia, pelajaran di kelas tidak hanya berupa pengetahuan tetapi juga keterampilan seperti kelas memasak. Siswa biasanya diberi waktu tambahan sekitar 15 menit untuk menikmati hasil masakan mereka sebagai bentuk merayakan pembelajaran mereka. Strategi ini bisa juga dilakukan untuk aktivitas seperti pembuatan laporan buku atau teks bacaan. Siswa diberikan waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan hasil pembelajaran mereka.
d. Mengejar mimpi kelas
Ini dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis proyek. Jadi guru dan siswa membuat suatu proyek bersama di mana setiap orang mendapatkan peran dan proyek yang dilaksanakan cukup realistik. Dalam buku ini, Tom memberikan contoh kegiatan Kemah Sekolah.
e. Menghapus perisakan (bullying)
Di sekolah Finlandia, terdapat semacam program anti bullying yang dinamakan Kiva. Inti dari program ini adalah siswa belajar untuk menawarkan solusi dari sebuah konflik yang lebih dari kata 'maaf' dan belajar merefeleksikan perilaku mereka.
f. Berkawan
Strategi ini berupa kolaborasi antarsiswa lintas angkatan. Seperti misalnya memasangkan siswa kelas 6 dengan kelas 1. Dengan begitu, siswa kelas 6 dapat merasa diberi tanggung jawab dan dipercaya untuk menjaga teman kecil mereka, serta belajar menjadi panutan.
3) Kemandirian
Anak-anak di Finlandia sudah terbiasa diajarkan untuk mandiri, seperti misalnya tidak diantar-jemput sekolah.
a. Mulai dengan kebebasan
Dalam buku ini, Tim memberikan contoh ketika para siswa diberikan kebebasan untuk menentukan strategi pengumpulan dana untuk kemah sekolah. Strategi ini lebih kepada memberikan tanggung jawab secara bertahap. Guru bisa memulai dengan memberikan kebebasan yang signifikan bukan larangan yang signifikan. Sekarang bukan saatnya lagi guru menjadi 'sage on the stage' atau 'bintang panggung', namun menjadi 'guide on the stage' atau pendukung yang berdiri di belakang mereka.
b. Meninggalkan batas
Strategi ini dapat dilakukan dengan cara berbicara kepada murid secara personal, bertemu dalam kelompok kecil, dan berkeliling menemui siswa.
c. Menawarkan pilihan
Hal yang perlu diingat dalam strategi ini adalah tugas seorang guru yaitu membuat hubungan antara minat siswa dan kurikulum. Contohnya dengan memberikan tugas yang lebih terbuka, misalnya untuk membuat laporan buku, siswa diperbolehkan memilih sendiri buku sesuai minat mereka.
d. Buat rencana bersama siswa anda
Strategi ini dapat dilakukan dengan cara menyusun suatu pembelajaran sepanjang minggu bersama siswa, di mana para siswa diberi suara kemudian masukan mereka digunakan untuk mempengaruhi arah pembelajaran. Ini juga dapat dilakukan dengan cara strategi instruksional dengan mengelompokkan hal yang saya Tahu (T), hal yang Mau saya tahu (M), dan hal yang saya Telah pelajari (T) atau TMT.
e. Buat jadi nyata
Di Finlandia terdapat PBL yang dinamakan 'Saya dan Kota Saya'. Dalam PBL ini, para siswa bermain peran dengan beragam profesi seperti walikota, reporter, agen penjualan dll. dalam suatu miniatur kota. Di sini para siswa mengalami secara langsung bagaimana gambaran kehidupan pada masyarakat yang sebenarnya.
f. Tuntutan tanggung jawab
Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan kualitas guru. Untuk menjadi seorang guru yang berkualitas, orang Finlandia harus memiliki gelar setara magister di bidang pendidikan kemudian dilanjutkan pelatihan selama 5 tahun untuk guru jenjang sekolah dasar. Di sana hanya memiliki sedikit universitas dengan program pengajaran.
4) Penguasaan
Salah satu bahan kebahagiaan adalah perasaan kompeten dalam area tertentu. Ada beberapa strategi untuk mengembangkan penguasaan dalam pembelajaran di dalam kelas, antara lain :
a. Ajarkan hal-hal mendasar
Di Finlandia, kurikulum dan buku paket tetap dipertahankan. Tetap bahwa kurikulum untuk melayani kegiatan, bukan sebaliknya. Yang perlu dimodifikasi adalah model pengajaran yang menginspirasi, seperti instruksi yang berbeda, ruang kelas yang responsif, dan pembelajaran berbasis proyek (PBL).
b. Gunakan buku pegangan
Ambil hal-hal baik dalam buku pegangan untuk meringankan beban perencanaan, namun jangan sampai buku paket menjadi 'majikan' yang harus diikuti seluruhnya.
c. Manfaatkan teknologi
Di Finlandia, integrasi teknologi bukanlah sebuah penekanan utama. Hanya kelas besar yang diperbolehkan membawa gawai namun mereka dapat meletakkan teknologi pada tempat yang tepat sebagai alat pembelajaran.
d. Memasukkan musik
Berdasarkan hasil penelitian di bidang Psikologi, latihan musik dapat memengaruhi sistem syaraf untuk menciptakan pelajar yang lebih baik. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan musik sebagai media pembelajaran, seperti menyanyikan lagu bersama-sama.
e. Menjadi pelatih
Strategi ini biasa dilakukan pada pembelajaran dengan metode 'Learning by doing', biasanya kelas keterampilan seperti misalnya di Finlandia terdapat kelas pertukangan. Cara terbaik untuk menguasai sesuatu adalah melalui latihan alam setting 'dunia nyata', seperti misalnya melakukan eksperimen langsung pada pelajaran IPA. Guru juga berperan seperti seorang pelatih, yang sebisa mungkin memberikan pujian namun dibatasi dan lebih menekankan pada masukan yang spesifik, jujur, dan konstruktif.
f. Buktikan pembelajaran
Strategi ini dapat dilakukan dengan evaluasi sumatif, seperti membuktikan jawaban mereka lewat pertanyaan yang sulit dan terbuka. Contoh pertanyaan : "bayangkan kamu diminta untuk mencari tahu apakah pasta gigi masuk asam atau basa. Berpikirlah seperti seorang ilmuwan, apa yang akan kamu lakukan?"
g. Mendiskusikan nilai
Di Finlandia, terdapat kebiasaan sebelum membagikan rapor di akhir semester, guru bercakap-cakap dengan setiap siswa mengenai nilai mereka. Biasanya guru akan memberitahukan nilai yang akan ditulis di rapor, kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberi tanggapan. Dalam strategi ini, siswa diajak merefleksikan pembelajaran mereka sendiri.
5) Pola Pikir
Pada bagian ini lebih fokus kepada strategi abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan) di mana ada ruang bagi setiap pengajar untuk tumbuh. Strategi ini merupakan kebalikan dari scarcity-minded (menekankan kelangkaan), di mana kemenangan seseorang akan berujung pada kekalahan orang lain. Dengan kata lain, bagian ini membahas tentang penerapan strategi 'kolaborasi' pada para pengajar bukan 'kompetisi'.
a. Mencari flow
Flow di sini artinya suatu aktivitas menyenangkan yang ketika dilakukan waktu terasa berjalan cepat. Guru dan sisswa dapat melakukan pekerjaan yang menantang, menarik, penuh tuntutan dan terarah pada tujuan. Dalam strategi ini, juga sebisa mungkin minimalkan distrakti seperti handphone atau obrolan dan pangkas budaya persaingan.
b. Berkulit tebal
Berkulit tebal di sini berarti guru harus percaya diri dengan keahliannya. Mereka juga harus tahan banting ketika mendapatkan kritik dari orang tua, dan mampu menjelaskan secara bertanggung jawab bahwa mereka adalah seorang 'ahli' di sekolah yang profesional, dan melihat dirinya seperti itu.
c. Kolaborasi lewat kopi
Guru-guru di Finlandia, sangat menekankan kolaborasi. Di waktu istirahat sambil 'ngopi' misalnya, guru-guru biasanya saling berdiskusi tentang cara meningkatkan mutu belajar mengajar.
d. Menyambut para ahli
Menyambut para ahli berarti mengundang guru lain ke kelas kita. Ini merupakan strategi yang juga menekankan kolaborasi. Guru bisa saling memberikan masukan terkait materi atau metode mengajar.
e. Melepaskan diri untuk berlibur
Para guru di Finlandia, menggunakan waktu liburan untuk benar-benar berlibur. Mereka sedikit sekali melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sekolah pada saat liburan. Mereka menggunakan waktu liburan secara profesional untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, penulis juga menyarankan bahwa liburan juga bisa dijadikan waktu terbaik untuk merefleksikan pekerjaan kita dan menemukan ide-ide baru yang menginspirasi yang dapat dimasukkan ke dalam kelas.
f. Jangan lupa bahagia
Sebenarnya kebahagiaan atau menjalani sesuatu dengan bahagia adalah inti dalam semua strategi yang dibahas dalam buku ini tentang kelas yang menyenangkan. Di beberapa negara, ada sekolah yanng mulai menerapkan semacam kurikulum kebahagiaan, yang berisi tentang life skills (keterampilan hidup) non-akademik, seperti kepenuhan diri, hubungan interpersonal, dan kesadaran diri (mindfullness).
Semoga strategi kelas yang menyenangkan ala Finlandia ini dapat menginsprirasi pendidikan Indonesia. Namun, tentunya ini tidak bisa diterapkan secara langsung dan tetap harus menyesuaikan dengan budaya di Indonesia.
Minggu, 23 Desember 2018
Memperlakukan Orang Lain sebagai Subjek, Bukan Objek
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan orang lain untuk membantu pekerjaan kita. Namun, apakah kita menghargai orang lain tersebut hanya ketika kita membutuhkannya? Atau men-spesial-kan ia hanya karena sesuatu yang dia punya dan tidak kita punya? Lalu, bagaimana jika ada orang lain yang tidak memberikan manfaat untuk kita namun malah menyusahkan kita?
Seiring bertambahnya dewasa, bertambah angka pada umur, mungkin ini saatnya untuk kita melihat orang lain sebagai subjek. Melihat orang lain sebagai orang yang sama-sama memiliki pikiran dan perasaan. Melihat orang lain bukan karena 'ia siapa', 'ia punya apa'. Kita tidak bisa mengendalikannya hanya untuk kepentingan kita. Bertanyalah, bukan sekadar menyuruh. Ketika kita ingin menyuruh ia berbuat kebaikan, tanya dulu 'mengapa ia memilih berbuat yang tidak baik?'. Mungkin jika seperti ini, kita menjadi orang yang berempati, bukan malah sering memaki.
Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan pada orang yang membuat kita susah atau berbuat kesalahan pada kita? Apakah kita berhak memarahinya? Jika itu suatu bentuk hukuman dengan niat baik agar dia berubah, maka boleh. Namun apa jadinya jika kemarahan itu hanya suatu bentuk ungkapan dengan tujuan melepaskan amarah kita? Bagaimana jadinya bila orang itu sakit hati?
Ketika kamu menyakiti orang lain, ingatlah bahwa bisa jadi orang yang kita sakiti itu adalah orang yang paling spesial untuk keluarganya, untuk ibunya, untuk ayahnya, atau untuk kakak dan adiknya. Punya hak apa kita tidak mengurusnya tapi berani menghakiminya?
Tulisan ini merupakan sebuah ungkapan penulis yang sedang merasa 'jengah' dan teringat dengan pertanyaan dalam games mobile legend 'why people hurt each others?'. Sebagai seorang mahasiswa psikologi dan tertarik dalam psikologi sosial, penulis merasa sangat penting bagaimana kehidupan bersosial kita. Sudah seharusnya kita berbuat baik pada orang lain, karena kita pun menginginkan hal yang baik.
Di satu titik, mungkin kita pernah menyakiti orang lain dengan ketidak sengajaan. Tetaplah jangan lupa untuk meminta maaf. Perlakukanlah orang lain sebagai subjek sebagaimana kita ingin diperlakukan, bukan sebagai objek yang kita butuhkan karena apa yang ia punya.
Sebagai seorang Muslim, lihatlah bahwa Rasulullah SAW. pun mencontohkan bagaimana mulianya akhlak yang ia tampilkan dalam kehidupan. Setiap orang yang berjumpa dengannya selalu merasa sebagai orang yang paling di-spesial-kan olehnya. Ketika melihat orang yang berbuat kesalahan, Rasulullah bukan menghakiminya. Tapi justru kasihan melihatnya, meminta agar Allah memberikan hidayah untuknya. Semoga kita diberi kekuatan hati agar bisa menjadi orang baik di mana pun dan pada siapa pun. Baik yang tidak hanya kita tampilkan di luar, tetapi kebaikan dari hati yang terdalam dan memancar ke luar.
Rabu, 07 November 2018
Teduhkan Bumi Allah dengan Akhlakul Karimah
“Tidaklah aku diutus ke semesta kecuali untuk
menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
‘Aisyah
r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW., maka beliaupun menjawab, “Akhlak beliau adalah (melaksanakan seluruh
yang ada dalam) Al-Qur’an.”
Salah satu contoh akhlak Al-Qur’an adalah mampu
menahan marah saat emosinya bergejolak dan memaafkan kesalahan orang lain.
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran : 133-134)
Ini dibuktikan oleh Rasulullah SAW. dan kisah beliau bersama
seorang pengemis Yahudi yang buta. Pengemis tersebut selalu mengatakan di sudut
pasar “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya.”
Rasulullah SAW. selalu mendatangi pengemis tersebut
setiap pagi. Namun, bukan untuk membalasnya, melainkan memberikannya makanan.
Bahkan, Rasulullah SAW. selalu menyuapi sang pengemis tanpa berkata-kata.
Kebiasaan tersebut berlangsung hingga Rasulullah SAW. wafat. Hingga akhirnya
digantikanlah kebiasaan itu oleh Abu Bakar r.a. Sang pengemis menyadari bahwa
yang menyuapinya adalah orang yang berbeda, karena Rasulullah SAW. selalu
menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan diberikan sehingga sang pengemis
lebih mudah untuk mengunyahnya.
Sang pengemis bertanya kepada Abu Bakar, “siapakah
kamu?” Seraya menangis, Abu Bakar menjawab, “aku memang bukan orang yang biasa
datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang mulia itu telah
tiada. Ia adalah Rasulullah Muhammad SAW.” Pengemis itu pun ikut menangis
seraya berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya,
memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sediktpun, ia mendatangiku dengan
membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.” Di hadapan Abu Bakar, akhirnya
pengemis Yahudi buta tersebut bersyahadat.
MasyaAllah, luar biasanya akhlak Rasulullah SAW. Lalu,
apa jadinya kita bila dihadapkan pada situasi tersebut? Barangkali kita sudah
marah, tak sudi rasanya berbuat baik kepada orang yang terus-menerus menghina
kita padahal orang tersebut tidak mengenal kita dengan baik, atau bahkan bisa
saja kita meracuni makanan tersebut karena dendam. Tapi begitulah Rasulullah
dan akhlak Al-Qur’annya yang mulia.
Islam mengatur semua aspek dalam kehidupan, termasuk
bagaimana kita bersikap dan bertingkah laku. Islam mengatur bagaimana kita
berakhlak kepada Allah, kepada manusia, juga kepada alam sekitar. Aturan
tersebut tidak lain dimaksudkan agar manusia tetap berada dalam koridor
kebaikan.
Akhlak kepada Allah dapat kita buktikan dengan
mentauhidkan-Nya, hanya beribadah kepada-Nya, dan semua yang kita lakukan
ikhlas karena Allah SWT. Dengan begitu, kita hanya melihat Allah dalam segala
maksud dan tujuan kegiatan kita. Kita tidak akan kecewa bila manusia tidak
melihat pekerjaan kita, karena hanya Allah yang dituju, hanya penilaian Allah
yang kita perhatikan. Sikap seperti ini akan membuat kita memiliki mental yang
kuat, tidak sombong karena pujian, tidak kecewa karena hinaan. Selalu berani
selama kita berada dalam jalan kebenaran, tentunya apa yang benar menurut Islam,
bukan pembenaran menurut kita sendiri.
Islam juga mengatur bagaimana kita berakhlak kepada
manusia. Seperti birrul walidain
(berbakti kepada orang tua), berbuat baik kepada tetangga, berlaku adil kepada
siapapun, serta saling menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar. Diizinkan Allah untuk bisa memasuki surganya memang sangat
membahagiakan. Tetapi lebih bahagia lagi bila kita dapat masuk ke dalam
jannah-Nya secara beramai-ramai, karena saling ber-amar ma’ruf nahi munkar sewaktu
di dunia. Sementara itu, jikalau ada orang lain yang berbuat tidak baik kepada
kita, maka balaslah dengan kebaikan, dengan senjata akhlakul karimah.
“Tolaklah
(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu
dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia.” (Q.S. Fushilat : 34)
Akhlak kepada alam sekitar juga harus kita perhatikan.
Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah dengan menundukkan
alam agar dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dari mulai hewan yang diambil daging,
susu, dan tenaganya, tanam-tanaman untuk makanan dan obat-obatan, serta sumber
daya alam lain yang dapat dijadikan sumber energi. Maka sudah sepantasnya kita
berkasih sayang kepada makhluk Allah lainnya, kepada binatang dan
tanam-tanaman, serta menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Semoga kita tidak
termasuk orang-orang yang tidak disukai Allah karena berbuat kerusakan di muka
bumi.
“Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qasas : 77)
Mempraktikkan akhlak mulia sesuai ajaran Islam
insyaAllah bisa mengantarkan kita pada derajat sebaik-baik manusia.
“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari 6035)
Semoga kita bisa membuat bumi Allah ini lebih nyaman
untuk ditinggali dengan teduhnya akhlak mulia yang diajarkan Al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah SAW.
Referensi :
·
Mujilan, dkk.
2008. Buku Ajar Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian Agama Islam, Membangun Pribadi Muslim Moderat. Jakarta : Midada
Rachma Press.
· Rauf, A. A. A.
2011. Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah. Jakarta
: Haqiena Media, Markaz Al-Qur’an.
Collaboraction sebagai Peran Multipihak dalam Upaya Perlindungan Pekerja Rumahan
PENDAHULUAN
Ketika mendengar kata ‘pekerja
rumahan’, kebanyakan masyarakat mengasosiasikannya dengan pekerja rumah tangga.
Hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan karena yang dimaksud pekerja rumahan adalah
seseorang yang mengerjakan sebahagian produksi perusahaan, namun dikerjakan di
rumah atau tempat lain yang dipilih sendiri oleh pekerja (Ros, 2018).
Permasalahan pekerja rumahan tidak sebatas
pada pemahaman terhadap termnya sendiri, namun juga terjadi pada aktivitasnya
di masyarakat. Jam kerja yang dibebankan kepada pekerja rumahan sering tidak
sebanding dengan upah yang dibayarkan. Jam kerja pekerja rumahan di Medan
memiliki rentang 12 bahkan 15 jam per hari dengan kisaran upah Rp. 3.500,00 –
Rp. 15.000,00 per hari sangat jauh dengan UMK Medan yang berada pada kisaran
Rp. 100.000,00 per hari. Pekerja rumahan juga tidak mendapatkan hak-hak seperti
layaknya pekerja formal lainnya, seperti jatah cuti, lembur, jaminan sosial,
serta keselamatan dan kesehatan kerja.
Salah satu hal yang pekerja rumahan tidak
didaftarkan pada jaminan sosial adalah tidak ada perjanjian kerja dengan
pemberi kerja, sehingga antara pekerja dengan pemberi kerja tidak memiliki
hubungan kerja (Aprilia, 2018). Sebsnyak 99% pekerja rumahan tidak memiliki
kontrak tertulis. Data tentang nama, jumlah barang, waktu penerimaan dan
penyetoran barang biasanya hanya terdapat di satu pihak, yaitu pengusaha
(Cecil, 2018).
Jenis pekerjaan rumahan juga biasa dikenal
sebagai pekerjaan borongan. Pekerjaan ini merambah dalam banyak komoditas,
seperti batik (kain, kulit, kayu), tenun, konveksi, meubel (kayu dan rotan),
kulit, tanah (gerabah, dll), makanan, monel, dll. (Swastuti, 2016). Pekerja
rumahan memang banyak secara kuantitas, namun masih perlu dipertanyakan dalam
hal kualitas. Upah yang diterima pekerja rumahan di Indonesia tidak sesuai
dengan jam kerja yang dibebankan. Contohnya pekerjaan rumahan di Malang yang
bekerja mengupas bawang hanya dihitung seharga Rp.1000,00 per kg. Dalam waktu
satu hari dapat dihasilkan satu karung bawang yang berisi sekitar 60 kg yang
dikerjakan oleh 3-4 orang, sehingga rata-rata per orang tidak mendapatkan upah
lebih dari Rp.20.000,00 dalam sehari. Di Kalimantan Barat juga terdapat jenis
pekerjaan rumahan berupa membungkus tempe yang dihargai Rp. 400,00 per satu
bungkus dan mengikat sayur yang dihargai Rp. 300,00 per ikat. Ada juga
pekerjaan menjahit tas perca yang hanya dihargai Rp. 2.500,00 per unit yang
dapat dikerjakan dalam waktu satu jam.
Permasalahan pekerja rumahan juga tidak
hanya pada jenis pekerjaan dan imbalan yang didapatkan, tetapi juga terkait
dengan permasalahan kesetaraan gender. Pekerja rumahan dengan upah yang rendah
didominasi oleh perempuan. Secara umum besar upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan
perempuan, yaitu Rp. 2.115.072,00 berbanding Rp. 1.644.458,00 (KPPA, 2015).
Perbedaan perlakuan dalam pemberian uoah ini disebabkan karena perempuan
dianggap bukan sebagai kepala keluarga sehingga tidak mendapatkan tunjangan
keluarga, walaupun ada kemungkinan bahwa dia yang harus menanggung seluruh
biaya kehidupan keluarganya.
Permasalahan pekerja rumahan cukup sulit
diatasi, karena dilatarbelakangi oleh keadaan yang mendesak untuk mencari
sumber perekonomian. Bahkan pekerja rumahan terkadang tidak hanya terjadi pada
perempuan sebagai ibu dalam rumah tangga, namun bisa juga terjadi pada anak
jika memang permasalahan utama keluarga tersebut adalah kemiskinan. Hal ini
perlu segera ditindaklanjuti karena jika dibiarkan terus-menerus, keluarga pada
masyarakat kalangan pekerja rumahan tersebut bisa terjebak dalam lingkaran
setan kemiskinan. Perlu upaya dari berbagai pihak, di antaranya pemerintah,
pengusaha, warga masyarakat, dan mahasiswa.
PEMBAHASAN
Collaboraction merupakan representasi
peran multipihak dalam menyelesaikan masalah pekerja rumahan. Semua pihak harus
mengambil peran karena sistem yang terintegrasi dengan baik dapat menghasilkan
sesuatu yang lebih berdampak daripada dilakukan secara terpisah satu sama lain.
Peran strategis yang diambil dapat dibagi sesuai tanggung jawabnya dalam
masyarakat, antara lain :
a. Pemerintah
Peran yang dapat dilakukan hanya oleh
pemerintah terutama adalah membuat kebijakan. Kebijakan ini berperan sebagai
payung hukum agar pekerja rumahan mendapatkan perlindungan yang kuat sehingga
tidak ada lagi permasalahan seperti misalnya kerugian apabila terjadi
kecelakaan kerja yang ditanggung pribadi oleh pekerja rumahan, jam kerja yang
tidak menentu, atau pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh pengusaha yang
dapat terjadi kapan saja.
Sebagai anggota ILO (International Labour
Organization), Indonesia seharusnya dapat meratifikasi Konvensi ILO C177
tentang Home Work. Payung hukum juga diperlukan terutama di tingkat Peraturan
Kementerian agar memudahkan pembuatan peraturan daerah di tingkat provinsi
maupun kabupaten/kota.
Progress terkait pembuatan kebijakan
sebenarnya sudah dilakukan oleh Provinsi Sumatera Utara dan DI Yogyakarta,
namun belum sampai pada tahap disahkan. Perlu adanya pemerataan untuk seluruh
pemerintah daerah akan kesadaran pentingnya perlindungan pekerja rumahan.
Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik juga perlu melakukan pendataan dan
kategorisasi terkait jenis pekerja rumahan.
Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan
perguruan tinggi di daerahnya untuk membuat naskah akademik sebagai landasan
kajian pembuatan peraturan daerah tentang perlindungan pekerja rumahan. Sangat
diperlukan follow up secara rutin hingga akhirnya peraturan daerah tersebut
dapat disahkan.
b. Pengusaha
Hal yang pertama harus dilakukan adalah
sosialisasi tentang apa itu pekerja rumahan kepada para pengusaha karena masih
banyak yang belum mengetahui definisi yang jelas dari pekerja rumahan itu
sendiri. Setelah itu, perlu adanya pembuatan kontrak kerja yang menjelaskan
hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja rumahan. Kontrak kerja tersebut
harus mencakup penjelasan tentang jam kerja, cuti, lembur, jaminan sosial,
serta keselamatan dan kesehatan kerja. Pengusaha harus mampu menumbuhkan
Perceived Organizational Support (POS), yaitu derajat kepercayaan karyawan
bahwa perusahaan menilai kontribusi dan peduli terhadap kesejahteraan mereka
(Robbins & Judge, 2017).
c. Masyarakat
Kontribusi masyarakat dapat dilihat dari
perannya sebagai LSM yang fokus terhadap isu pekerja rumahan, warga masyarakat
secara umum, dan pekerja rumahan itu sendiri. Hal ini sudah dicontohkan oleh
MAMPU kemitraan Indonesia-Australia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuan, bersama mitra-mitranya khususnya yang concern terhadap pekerja
rumahan, seperti yayasan BITRA (Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia), MWPRI
(Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia), TURC (Trade Union Right Centre), dan
YASANTI (Yayasan Anisa Swasti). Masyarakat dapat bergabung dengan mitra yang
sudah ada atau menginisiasi organisasi atau komunitas yang memperhatikan
masalah kesejahteraan pekerja rumahan. Tugas utama LSM ini dapat berupa
melakukan pencerdasan kepada para pekerja rumahan tentang hak dan kewajiban mereka
sebagai pekerja dan mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membuat
kebijakan terkait perlindungan pekerja rumahan.
Warga masyarakat secara umum juga dapat
mengambil peran dengan cara melaporkan kepada pemerintah, khususnya dinas
tenaga kerja jika menemukan kasus pekerja yang tergolong ke dalam pekerja
rumahan ataupun yang mendapatkan upah tidak layak dari pekerjaannya. Sementara
untuk pekerja rumahan itu sendiri dapat menyatukan kekuatan dengan cara
berkumpul lewat organisasi ataupun komunitas dan aktif menyuarakan pendapat
mereka kepada pemerintah atau pihak pengusaha yang tidak melaksanakan
kewajibannya yang selayaknya.
d. Mahasiswa
Hal yang dapat dilakukan mahasiswa
misalnya melalui kajian yang dilakukan Departemen Kajian dan Aksi Strategis
Badan Eksekutif Mahasiswa untuk membahas secara mendalam isu pekerja rumahan.
Mahasiswa juga dapat menjadi pengontrol kebijakan yang menyuarakan aksinya pada
pemerintah tentang pentingnya segera dibuat peraturan yang berisi perlindungan
terhadap pekerja rumahan. Selain kajian, mahasiswa juga dapat melakukan soft
movement seperti misalnya membagikan brosur tentang isu pekerja rumahan di
titik-titik ramai masyarakat seperti taman kota atau alun-alun sehingga
masyarakat menjadi lebih sadar adanya isu pekerja rumahan. Diskusi bersama
ataupun seminar juga dapat dilakukan untuk membuka sudut pandang dari berbagai
pihak, baik pemerintah, pengusaha, maupun pekerja rumahan di ranah lingkungan
akademik. Hal tersebut dapat pula mendorong dihasilkannya naskah akademik dari
universitas sebagai bahan pembuatan peraturan daerah.
KESIMPULAN
Penyelesaian masalah pekerja rumahan bukan
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau LSM yang fokus terhadap isu
tersebut. Penyelesaian masalah dapat berlangsung efektif jika semua pihak
saling berkolaborasi memaksimalkan perannya, baik pemerintah, pengusaha, warga
masyarakat, pekerja rumahan itu sendiri, serta mahasiswa.
Referensi
:
APRILIA,
S. F. (2018). JAMINAN SOSIAL BAGI PEKERJA RUMAHAN SEKTOR MIKRO (Doctoral
dissertation, Universitas Airlangga).
Cecil,
dkk. (2018). Siapa pekerja rumahan, mengapa kita harus peduli?. Talkshow oleh
kbr.id ditayangkan pada 05 September 2018 di Malang, 56 menit 24 detik.
Pemerintah
Republik Indonesia. (2015). Profil tenaga kerja perempuan. Jakarta : Deputi Bidang
Perlindungan Perempuan KPPPA.
Robbins,
P. R. & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior 17th ed. England :
Pearson.
Ros,
dkk. (2018). Perlindungan hukum dan dukungan multipihak bagi pekerja rumahan. Talkshow
oleh kbr.id ditayangkan pada 03 Oktober 2018 di Medan, 41 menit 42 detik.
Sriyati,
dkk. (2018). Pengorganisasian dan pemberdayaan kelompok pekerja rumahan. Talkshow
oleh kbr.id ditayangkan pada 19 September 2018 di Yogyakarta, 57 menit 29
detik.
Swastuti,
E. (2016). Peran Serta Perempuan Dalam Pengelolaan Usaha Dagang Kecil Dan Menengah
(UDKM) Di Jawa Tengah. Media Ekonomi dan Manajemen, 27(1).
Minggu, 28 Oktober 2018
Mengejar Kebahagiaan
Dia
tersenyum, apakah sudah pasti dia bahagia?
Dia
tertawa, apakah sudah pasti dia sangat sangat bahagia?
Dia
terlihat murung, apakah sudah pasti dia tidak bahagia?
Dia menangis meraung,
apakah sudah pasti dia sangat tidak bahagia?
Terkadang apa yang
terlihat oleh mata, belum tentu sama dengan yang terjadi dalam hati. Seperti itu
pula kebahagiaan. Apakah kebahagiaan dapat diukur dengan ekspresi wajah yang
terlihat? Belum tentu. Bukankah ada orang yang menutupi kesedihannya dengan
senyuman ataupun keceriaan?
Sampai saat ini belum ada
alat ukur pasti kebahagiaan. Tidak ada ada definisi yang jelas tentang
kebahagiaan. Karena jika setiap orang ditanya tentang apa yang membuatnya
bahagia, maka jawabannya berbeda-beda. Seperti layaknya kebanyakan jawaban anak
jurusan Psikologi, yaitu ‘tergantung’.
Orang yang kelaparan,
bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah makanan. Orang yang kekurangan harta,
bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah harta kekayaan. Orang yang sedang sakit,
bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah kesehatan. Orang yang memiliki latar
belakang broken home, bisa jadi
sumber kebahagiaannya adalah keluarga yang harmonis. Ya, sumber kebahagiaan
setiap orang berbeda-beda.
Namun, tidak selamanya
hal di atas pasti terjadi. Tidak selamanya sumber kebahagiaan berasal dari
sesuatu yang kita ‘tidak punya’. Di luar sana, masih banyak orang yang
kekurangan harta, kekurangan makanan, atau memiliki fisik yang tidak sempurna,
tidak memiliki keluarga yang utuh, namun mereka tetap bahagia. Mereka tetap
bisa tersenyum menikmati hidup. Sementara di sisi lain, ada orang yang memiliki
harta berlimpah tapi tidak bahagia, ada yang diberi kesehatan tapi tidak
menjaga kesehatannya dengan baik, ada yang memiliki keluarga utuh tapi tidak
saling menjaga.
Lalu,
apa sebenarnya kebahagiaan itu?
Dalam KBBI, kebahagiaan
didefinisikan dengan kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin);
keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. Dari definisi ini, kita mungkin
bisa menyoroti pada kondisi lahir dan ‘batin’. Ya, sejalan dengan kondisi
batin. Orang yang bahagia tidak hanya dapat diukur dengan ekspresi wajahnya
yang tersenyum ataupun tertawa lebar, karena batin kita pun harus merasakan
kebahagiaan tersebut. Bahagia menjadi sulit diukur karena batin kita bukanlah
hal yang bisa kita observasi secara langsung.
Kebahagiaan bergantung
pada ‘nilai’ apa yang kita miliki. Nilai adalah segala sesuatu yang kita anggap
penting. Misalnya, jika seseorang memiliki nilai kejujuran. Ia akan bahagia
jika ia bisa jujur dalam situasi apapun. Ia tidak akan bahagia jika mendapat
nilai memuaskan dalam ujian, tetapi hasil dari perilaku mencontek. Namun ia
bisa tetap bahagia meskipun mendapat nilai kurang bagus tetapi hal itu
merupakan hasil usahanya sendiri semaksimal yang ia mampu.
Oleh karena itu,
milikilah nilai yang tidak dapat diukur, tidak sekadar materi yang dapat
terlihat. Terkadang kita tidak bahagia, karena kita salah membandingkan. Kita salah
membandingkan diri kita dengan orang yang memiliki hal yang kita ‘tidak punya’,
dan hal yang kita ‘tidak punya’ itu merupakan sesuatu yang dapat diukur dalam
angka. Cobalah kita membandingkan diri kita dengan orang lain bukan dari segi
harta yang ia miliki, bukan dari segi penampilan fisik yang terlihat, bukan
pula dari seberapa banyak followers-nya,
nah lho. Tapi bandingkan diri kita dengan orang lain dari seberapa banyak
kebaikan yang telah diperbuat, seberapa banyak diri kita bermanfaat untuk
lingkungan sekitar, dan seberapa baik kualitas akhlak kita.
Di luar sana masih ada
orang yang kekurangan harta namun dapat melanjutkan pendidikan, masih ada orang
dengan fisik tak sempurna namun tetap berprestasi, dan masih ada orang yang
berasal dari keluarga tak ideal namun pada akhirnya bisa membangun keluarga
strategis. Semua ini tergantung pada pilihan kita, fokus kepada apa yang kita ‘tidak
punya’ dan menjadikannya penyebab ketidakbahagiaan kita, atau memilih fokus
kepada apa yang kita ‘punya’ dan memaksimalkannya sehingga membuat kita lebih
bersyukur?
“Orang yang benar-benar bahagia adalah ia yang
tidak mengejar kebahagiaan.”
Semoga apa yang membuat kita bahagia adalah sesuatu yang
bernilai dan tak terhingga, sehingga kebahagiaan kita pun tak terhingga.
Selasa, 31 Juli 2018
Ini tentang Damai
Damai
Dalam ricuh ia terdiam
Ambang amarahnya tersulut, luhur
Mengorek isi keramaian kebiasaannya
Awaknya rusuh setelah kepalanya penuh
Iktikadnya sejalan asa sesama
Kala panah lidah tak saling menghujam
Di sana pemantik sudah padam
Kala jiwa malang dapat tenang
Di sini nurani segar tak usang
Kala orang kebanyakan tak banyak berberai
Di situlah menurutnya damai tercapai
Ideal memang pemikirannya
Acuh pada makanan batinnya
Mewah peradaban bisa terjamah
Asalkan teraktualisasi dalam jemaah
Disemogakan saja agar segera tercapai
Damai
Langganan:
Postingan (Atom)
Kontrol Diri dari Dalam, Rendah Hati pada Alam
Tulisan ini akan lebih banyak bicara refleksi diri, Tentang keberadaan diri yang kadang lupa diri, Tinggal bersama alam namun kita seakan...
-
Dalam bukunya 'Mengajar Seperti Finlandia', Timothy D. Walker seorang guru Amerika yang pindah ke Finlandia membagikan 33 strategi...
-
Sumber pict : Bukalapak Judul : Bangkitnya Spiritualitas Islam Penulis : Muhammad Fethullah Gulen Penerjemah : Fuad Saefuddin Pe...
-
Buku ini menjadi guru sebelum aku terjun aksi pada GUIM (Gerakan UI Mengajar) Angkatan 8. Banyak yang bisa dipelajari dari buku ini. Penul...





