Kamis, 31 Januari 2019

Catatan Seorang Pembelajar



Buku ini menjadi guru sebelum aku terjun aksi pada GUIM (Gerakan UI Mengajar) Angkatan 8. Banyak yang bisa dipelajari dari buku ini. Penulis buku merupakan pengajar dan panitian GUIM Angkatan 5 yang melakukan aksi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada tahun 2016. Banyak kisah yang mewarnai cerita dalam buku ini.

Ada panitia yang menemukan arti kebahagiaan dalam ceritanya, ada yang bertemu dengan murid yang berjanji untuk berubah menjadi lebih baik, ada pula yang berhasil keluar dari zona nyamannya di ibukota dan menemukan zona nyaman baru di wilayah aksinya.

Bagi orang yang tertarik dengan dunia pendidikan, buku ini sangat aku rekomendasikan. Terutama untuk orang yang memilih terjun langsung menangani masalah di masyarakat dan tidak sekadar protes dengan kebijakan pemerintah yang ada.

Selasa, 01 Januari 2019

33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan Ala Timothy D. Walker dalam Teach Like Finland

Dalam bukunya 'Mengajar Seperti Finlandia', Timothy D. Walker seorang guru Amerika yang pindah ke Finlandia membagikan 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan sesuai 5 bahan kebahagiaan, yaitu kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan, dan pola pikir.

1) Kesejahteraan

Bahan kebahagiaan pertama, yaitu kesejahteraan; intinya berbicara tentang bagaimana terpenuhinya kebutuhan pokok, sehingga tidur, makan, minum yang cukup, tersedianya pakaian dan tempat bernaung menjadi prasyarat bagi diri kita (guru) dan peserta didik di kelas kita. Terdapat 7 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan dalam bahan kebahagiaan ini :

a. Jadwal istirahat otak

Finlandia memiliki kebiasaan istirahat 15 menit setiap 45 menit pelajaran. Pada jam istirahat tertentu ini, biasanya siswa bermain keluar atau bersosialisasi dengan teman-teman mereka. Ini penting untuk mengistirahatkan otak siswa sehingga mereka lebih fokus selama pelajaran.

b. Belajar sambil bergerak

Selama ini, pembelajaran di sekolah-sekolah lebih banyak dilakukan secara duduk-duduk atau berdiri di depan kelas selama presentasi. Cara ini relatif kurang produktif. Akan lebih baik jika pengajar menawarkan 'energizer' atau 'ice breaking' selama pelajaran. Presentasi juga dapat dilakukan melalui strategi 'Galeri Berjalan' di mana para siswa berkumpul secara berkelompok kemudian mereka melakukan presentasi di beberapa titik di dalam kelas. Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 peran, yaitu sebagai presentan dan audience. Presentan diam di tempat dan menjelaskan pada audience kelompok lain. Sementara audience berjalan mengunjungi setiap kelompok untuk mendengarkan presentasi kemudian memberikan feedback.

c. Recharge sepulang sekolah

Tidak ada pekerjaan rumah di Finlandia, karena guru-guru di sana memahami pentingnya waktu luang terutama di malam hari untuk mengisi ulang tenaganya.

d. Menyederhanakan ruang

Biasanya di awal tahun ajaran, kita mengalokasikan waktu untuk menghias kelas; atau bisa juga di tengah tahun ajaran kita memajang hasil karya siswa di dinding-dinding kelas. Namun ternyata, membuat ruang kelas kita lebih rapi dan sederhana bisa lebih menghemat waktu dan mengurangi gangguan eksternal dalam proses belajar mengajar.

e. Menghirup udara segar

Siswa-siswa di Finlandia memerhatikan kualitas udara di dalam kelas sehingga mereka memiliki kebiasaan membuka jendela kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.

f. Masuk ke alam liar

Masuk ke alam liar bukan berarti siswa diajak ke hutan untuk belajar. Ini bermakna mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat apa yang mereka pelajari secara lebih nyata. Sebagai guru, kita bisa memikirkan tentang tempat-tempat alami yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolah. Ini dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti menggunakan lapangan sebagai habitat suatu organisme, menanam kentang di beberapa titik di ruang kelas,menghijaukan sekolah melalui beberapa proyek, atau bahkan memelihara kecebong ketika mempelajari siklus hidup katak.

g. Menjaga kedamaian

Menjaga kedamaian berarti menjaga kelas dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Strategi ini dapat dimulai dengan membuat peraturan bersama siswa, seperti misalnya menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati lingkungan serta menjadi pendengar yang baik.

2) Rasa Dimiliki (sense of belonging)

Strategi di bawah ini digunakan untuk membudayakan suatu perasaan saling terhubung di kelas kita.

a. Mengenal setiap anak

Ini merupakan strategi untuk memberikan pesan bahwa kita (guru) mengenal siswa secara individual, bukan sekadar sekelompok anak. Caranya dapat dilakukan dengan menyapa nama mereka satu persatu, fist bumps, jabat tangan, atau high fives. Guru juga bisa meluangkan waktu untuk makan bersama siswa saat jam istirahat atau mengunjungi rumah siswa dan mengobrol dengan orang tua mereka di waktu-waktu tertentu.

b. Bermain dengan murid-murid

Strategi ini biasa dilakukan pada minggu pertama di tahun ajaran baru. Guru bermain dengan siswa dengan tujuan agar mereka merasa nyaman di sekolah sebelum kegiatan yang sebenarnya dimulai.

c. Merayakan pembelajaran mereka

Di Finlandia, pelajaran di kelas tidak hanya berupa pengetahuan tetapi juga keterampilan seperti kelas memasak. Siswa biasanya diberi waktu tambahan sekitar 15 menit untuk menikmati hasil masakan mereka sebagai bentuk merayakan pembelajaran mereka. Strategi ini bisa juga dilakukan untuk aktivitas seperti pembuatan laporan buku atau teks bacaan. Siswa diberikan waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan hasil pembelajaran mereka.

d. Mengejar mimpi kelas

Ini dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis proyek. Jadi guru dan siswa membuat suatu proyek bersama di mana setiap orang mendapatkan peran dan proyek yang dilaksanakan cukup realistik. Dalam buku ini, Tom memberikan contoh kegiatan Kemah Sekolah.

e. Menghapus perisakan (bullying)

Di sekolah Finlandia, terdapat semacam program anti bullying yang dinamakan Kiva. Inti dari program ini adalah siswa belajar untuk menawarkan solusi dari sebuah konflik yang lebih dari kata 'maaf' dan belajar merefeleksikan perilaku mereka.

f. Berkawan

Strategi ini berupa kolaborasi antarsiswa lintas angkatan. Seperti misalnya memasangkan siswa kelas 6 dengan kelas 1. Dengan begitu, siswa kelas 6 dapat merasa diberi tanggung jawab dan dipercaya untuk menjaga teman kecil mereka, serta belajar menjadi panutan.

3) Kemandirian

Anak-anak di Finlandia sudah terbiasa diajarkan untuk mandiri, seperti misalnya tidak diantar-jemput sekolah.

a. Mulai dengan kebebasan

Dalam buku ini, Tim memberikan contoh ketika para siswa diberikan kebebasan untuk menentukan strategi pengumpulan dana untuk kemah sekolah. Strategi ini lebih kepada memberikan tanggung jawab secara bertahap. Guru bisa memulai dengan memberikan kebebasan yang signifikan bukan larangan yang signifikan. Sekarang bukan saatnya lagi guru menjadi 'sage on the stage' atau 'bintang panggung', namun menjadi 'guide on the stage' atau pendukung yang berdiri di belakang mereka.

b. Meninggalkan batas

Strategi ini dapat dilakukan dengan cara berbicara kepada murid secara personal, bertemu dalam kelompok kecil, dan berkeliling menemui siswa.

c. Menawarkan pilihan

Hal yang perlu diingat dalam strategi ini adalah tugas seorang guru yaitu membuat hubungan antara minat siswa dan kurikulum. Contohnya dengan memberikan tugas yang lebih terbuka, misalnya untuk membuat laporan buku, siswa diperbolehkan memilih sendiri buku sesuai minat mereka.

d. Buat rencana bersama siswa anda

Strategi ini dapat dilakukan dengan cara menyusun suatu pembelajaran sepanjang minggu bersama siswa, di mana para siswa diberi suara kemudian masukan mereka digunakan untuk mempengaruhi arah pembelajaran. Ini juga dapat dilakukan dengan cara strategi instruksional dengan mengelompokkan hal yang saya Tahu (T), hal yang Mau saya tahu (M), dan hal yang saya Telah pelajari (T) atau TMT.

e. Buat jadi nyata

Di Finlandia terdapat PBL yang dinamakan 'Saya dan Kota Saya'. Dalam PBL ini, para siswa bermain peran dengan beragam profesi seperti walikota, reporter, agen penjualan dll. dalam suatu miniatur kota. Di sini para siswa mengalami secara langsung bagaimana gambaran kehidupan pada masyarakat yang sebenarnya.

f. Tuntutan tanggung jawab

Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan kualitas guru. Untuk menjadi seorang guru yang berkualitas, orang Finlandia harus memiliki gelar setara magister di bidang pendidikan kemudian dilanjutkan pelatihan selama 5 tahun untuk guru jenjang sekolah dasar. Di sana hanya memiliki sedikit universitas dengan program pengajaran.

4) Penguasaan

Salah satu bahan kebahagiaan adalah perasaan kompeten dalam area tertentu. Ada beberapa strategi untuk mengembangkan penguasaan dalam pembelajaran di dalam kelas, antara lain :

a. Ajarkan hal-hal mendasar

Di Finlandia, kurikulum dan buku paket tetap dipertahankan. Tetap bahwa kurikulum untuk melayani kegiatan, bukan sebaliknya. Yang perlu dimodifikasi adalah model pengajaran yang menginspirasi, seperti instruksi yang berbeda, ruang kelas yang responsif, dan pembelajaran berbasis proyek (PBL).

b. Gunakan buku pegangan

Ambil hal-hal baik dalam buku pegangan untuk meringankan beban perencanaan, namun jangan sampai buku paket menjadi 'majikan' yang harus diikuti seluruhnya.

c. Manfaatkan teknologi

Di Finlandia, integrasi teknologi bukanlah sebuah penekanan utama. Hanya kelas besar yang diperbolehkan membawa gawai namun mereka dapat meletakkan teknologi pada tempat yang tepat sebagai alat pembelajaran.

d. Memasukkan musik

Berdasarkan hasil penelitian di bidang Psikologi, latihan musik dapat memengaruhi sistem syaraf untuk menciptakan pelajar yang lebih baik. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan musik sebagai media pembelajaran, seperti menyanyikan lagu bersama-sama.

e. Menjadi pelatih

Strategi ini biasa dilakukan pada pembelajaran dengan metode 'Learning by doing', biasanya kelas keterampilan seperti misalnya di Finlandia terdapat kelas pertukangan. Cara terbaik untuk menguasai sesuatu adalah melalui latihan alam setting 'dunia nyata', seperti misalnya melakukan eksperimen langsung pada pelajaran IPA. Guru juga berperan seperti seorang pelatih, yang sebisa mungkin memberikan pujian namun dibatasi dan lebih menekankan pada masukan yang spesifik, jujur, dan konstruktif.

f. Buktikan pembelajaran

Strategi ini dapat dilakukan dengan evaluasi sumatif, seperti membuktikan jawaban mereka lewat pertanyaan yang sulit dan terbuka. Contoh pertanyaan : "bayangkan kamu diminta untuk mencari tahu apakah pasta gigi masuk asam atau basa. Berpikirlah seperti seorang ilmuwan, apa yang akan kamu lakukan?"

g. Mendiskusikan nilai

Di Finlandia, terdapat kebiasaan sebelum membagikan rapor di akhir semester, guru bercakap-cakap dengan setiap siswa mengenai nilai mereka. Biasanya guru akan memberitahukan nilai yang akan ditulis di rapor, kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberi tanggapan. Dalam strategi ini, siswa diajak merefleksikan pembelajaran mereka sendiri.

5) Pola Pikir

Pada bagian ini lebih fokus kepada strategi abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan) di mana ada ruang bagi setiap pengajar untuk tumbuh. Strategi ini merupakan kebalikan dari scarcity-minded (menekankan kelangkaan), di mana kemenangan seseorang akan berujung pada kekalahan orang lain. Dengan kata lain, bagian ini membahas tentang penerapan strategi 'kolaborasi' pada para pengajar bukan 'kompetisi'.

a. Mencari flow

Flow di sini artinya suatu aktivitas menyenangkan yang ketika dilakukan waktu terasa berjalan cepat. Guru dan sisswa dapat melakukan pekerjaan yang menantang, menarik, penuh tuntutan dan terarah pada tujuan. Dalam strategi ini, juga sebisa mungkin minimalkan distrakti seperti handphone atau obrolan dan pangkas budaya persaingan.

b. Berkulit tebal

Berkulit tebal di sini berarti guru harus percaya diri dengan keahliannya. Mereka juga harus tahan banting ketika mendapatkan kritik dari orang tua, dan mampu menjelaskan secara bertanggung jawab bahwa mereka adalah seorang 'ahli' di sekolah yang profesional, dan melihat dirinya seperti itu.

c. Kolaborasi lewat kopi

Guru-guru di Finlandia, sangat menekankan kolaborasi. Di waktu istirahat sambil 'ngopi' misalnya, guru-guru biasanya saling berdiskusi tentang cara meningkatkan mutu belajar mengajar.

d. Menyambut para ahli

Menyambut para ahli berarti mengundang guru lain ke kelas kita. Ini merupakan strategi yang juga menekankan kolaborasi. Guru bisa saling memberikan masukan terkait materi atau metode mengajar.

e. Melepaskan diri untuk berlibur

Para guru di Finlandia, menggunakan waktu liburan untuk benar-benar berlibur. Mereka sedikit sekali melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sekolah pada saat liburan. Mereka menggunakan waktu liburan secara profesional untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, penulis juga menyarankan bahwa liburan juga bisa dijadikan waktu terbaik untuk merefleksikan pekerjaan kita dan menemukan ide-ide baru yang menginspirasi yang dapat dimasukkan ke dalam kelas.

f. Jangan lupa bahagia

Sebenarnya kebahagiaan atau menjalani sesuatu dengan bahagia adalah inti dalam semua strategi yang dibahas dalam buku ini tentang kelas yang menyenangkan. Di beberapa negara, ada sekolah yanng mulai menerapkan semacam kurikulum kebahagiaan, yang berisi tentang life skills (keterampilan hidup) non-akademik, seperti kepenuhan diri, hubungan interpersonal, dan kesadaran diri (mindfullness).

Semoga strategi kelas yang menyenangkan ala Finlandia ini dapat menginsprirasi pendidikan Indonesia. Namun, tentunya ini tidak bisa diterapkan secara langsung dan tetap harus menyesuaikan dengan budaya di Indonesia.

Minggu, 23 Desember 2018

Memperlakukan Orang Lain sebagai Subjek, Bukan Objek



Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan orang lain untuk membantu pekerjaan kita. Namun, apakah kita menghargai orang lain tersebut hanya ketika kita membutuhkannya? Atau men-spesial-kan ia hanya karena sesuatu yang dia punya dan tidak kita punya? Lalu, bagaimana jika ada orang lain yang tidak memberikan manfaat untuk kita namun malah menyusahkan kita?

Seiring bertambahnya dewasa, bertambah angka pada umur, mungkin ini saatnya untuk kita melihat orang lain sebagai subjek. Melihat orang lain sebagai orang yang sama-sama memiliki pikiran dan perasaan. Melihat orang lain bukan karena 'ia siapa', 'ia punya apa'. Kita tidak bisa mengendalikannya hanya untuk kepentingan kita. Bertanyalah, bukan sekadar menyuruh. Ketika kita ingin menyuruh ia berbuat kebaikan, tanya dulu 'mengapa ia memilih berbuat yang tidak baik?'. Mungkin jika seperti ini, kita menjadi orang yang berempati, bukan malah sering memaki.

Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan pada orang yang membuat kita susah atau berbuat kesalahan pada kita? Apakah kita berhak memarahinya? Jika itu suatu bentuk hukuman dengan niat baik agar dia berubah, maka boleh. Namun apa jadinya jika kemarahan itu hanya suatu bentuk ungkapan dengan tujuan melepaskan amarah kita? Bagaimana jadinya bila orang itu sakit hati?

Ketika kamu menyakiti orang lain, ingatlah bahwa bisa jadi orang yang kita sakiti itu adalah orang yang paling spesial untuk keluarganya, untuk ibunya, untuk ayahnya, atau untuk kakak dan adiknya. Punya hak apa kita tidak mengurusnya tapi berani menghakiminya?

Tulisan ini merupakan sebuah ungkapan penulis yang sedang merasa 'jengah' dan teringat dengan pertanyaan dalam games mobile legend 'why people hurt each others?'. Sebagai seorang mahasiswa psikologi dan tertarik dalam psikologi sosial, penulis merasa sangat penting bagaimana kehidupan bersosial kita. Sudah seharusnya kita berbuat baik pada orang lain, karena kita pun menginginkan hal yang baik.

Di satu titik, mungkin kita pernah menyakiti orang lain dengan ketidak sengajaan. Tetaplah jangan lupa untuk meminta maaf. Perlakukanlah orang lain sebagai subjek sebagaimana kita ingin diperlakukan, bukan sebagai objek yang kita butuhkan karena apa yang ia punya.

Sebagai seorang Muslim, lihatlah bahwa Rasulullah SAW. pun mencontohkan bagaimana mulianya akhlak yang ia tampilkan dalam kehidupan. Setiap orang yang berjumpa dengannya selalu merasa sebagai orang yang paling di-spesial-kan olehnya. Ketika melihat orang yang berbuat kesalahan, Rasulullah bukan menghakiminya. Tapi justru kasihan melihatnya, meminta agar Allah memberikan hidayah untuknya. Semoga kita diberi kekuatan hati agar bisa menjadi orang baik di mana pun dan pada siapa pun. Baik yang tidak hanya kita tampilkan di luar, tetapi kebaikan dari hati yang terdalam dan memancar ke luar.

Rabu, 07 November 2018

Teduhkan Bumi Allah dengan Akhlakul Karimah


Tidaklah aku diutus ke semesta kecuali untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)

‘Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW., maka beliaupun menjawab, “Akhlak beliau adalah (melaksanakan seluruh yang ada dalam) Al-Qur’an.”




Salah satu contoh akhlak Al-Qur’an adalah mampu menahan marah saat emosinya bergejolak dan memaafkan kesalahan orang lain.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran : 133-134)

Ini dibuktikan oleh Rasulullah SAW. dan kisah beliau bersama seorang pengemis Yahudi yang buta. Pengemis tersebut selalu mengatakan di sudut pasar “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”

Rasulullah SAW. selalu mendatangi pengemis tersebut setiap pagi. Namun, bukan untuk membalasnya, melainkan memberikannya makanan. Bahkan, Rasulullah SAW. selalu menyuapi sang pengemis tanpa berkata-kata. Kebiasaan tersebut berlangsung hingga Rasulullah SAW. wafat. Hingga akhirnya digantikanlah kebiasaan itu oleh Abu Bakar r.a. Sang pengemis menyadari bahwa yang menyuapinya adalah orang yang berbeda, karena Rasulullah SAW. selalu menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan diberikan sehingga sang pengemis lebih mudah untuk mengunyahnya.
Sang pengemis bertanya kepada Abu Bakar, “siapakah kamu?” Seraya menangis, Abu Bakar menjawab, “aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Rasulullah Muhammad SAW.” Pengemis itu pun ikut menangis seraya berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sediktpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.” Di hadapan Abu Bakar, akhirnya pengemis Yahudi buta tersebut bersyahadat.

MasyaAllah, luar biasanya akhlak Rasulullah SAW. Lalu, apa jadinya kita bila dihadapkan pada situasi tersebut? Barangkali kita sudah marah, tak sudi rasanya berbuat baik kepada orang yang terus-menerus menghina kita padahal orang tersebut tidak mengenal kita dengan baik, atau bahkan bisa saja kita meracuni makanan tersebut karena dendam. Tapi begitulah Rasulullah dan akhlak Al-Qur’annya yang mulia.

Islam mengatur semua aspek dalam kehidupan, termasuk bagaimana kita bersikap dan bertingkah laku. Islam mengatur bagaimana kita berakhlak kepada Allah, kepada manusia, juga kepada alam sekitar. Aturan tersebut tidak lain dimaksudkan agar manusia tetap berada dalam koridor kebaikan.
Akhlak kepada Allah dapat kita buktikan dengan mentauhidkan-Nya, hanya beribadah kepada-Nya, dan semua yang kita lakukan ikhlas karena Allah SWT. Dengan begitu, kita hanya melihat Allah dalam segala maksud dan tujuan kegiatan kita. Kita tidak akan kecewa bila manusia tidak melihat pekerjaan kita, karena hanya Allah yang dituju, hanya penilaian Allah yang kita perhatikan. Sikap seperti ini akan membuat kita memiliki mental yang kuat, tidak sombong karena pujian, tidak kecewa karena hinaan. Selalu berani selama kita berada dalam jalan kebenaran, tentunya apa yang benar menurut Islam, bukan pembenaran menurut kita sendiri.

Islam juga mengatur bagaimana kita berakhlak kepada manusia. Seperti birrul walidain (berbakti kepada orang tua), berbuat baik kepada tetangga, berlaku adil kepada siapapun, serta saling menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Diizinkan Allah untuk bisa memasuki surganya memang sangat membahagiakan. Tetapi lebih bahagia lagi bila kita dapat masuk ke dalam jannah-Nya secara beramai-ramai, karena saling ber-amar ma’ruf nahi munkar sewaktu di dunia. Sementara itu, jikalau ada orang lain yang berbuat tidak baik kepada kita, maka balaslah dengan kebaikan, dengan senjata akhlakul karimah.

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat : 34)

Akhlak kepada alam sekitar juga harus kita perhatikan. Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah dengan menundukkan alam agar dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dari mulai hewan yang diambil daging, susu, dan tenaganya, tanam-tanaman untuk makanan dan obat-obatan, serta sumber daya alam lain yang dapat dijadikan sumber energi. Maka sudah sepantasnya kita berkasih sayang kepada makhluk Allah lainnya, kepada binatang dan tanam-tanaman, serta menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tidak disukai Allah karena berbuat kerusakan di muka bumi.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qasas : 77)

Mempraktikkan akhlak mulia sesuai ajaran Islam insyaAllah bisa mengantarkan kita pada derajat sebaik-baik manusia.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari 6035)
Semoga kita bisa membuat bumi Allah ini lebih nyaman untuk ditinggali dengan teduhnya akhlak mulia yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Referensi :
·         Mujilan, dkk. 2008. Buku Ajar Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Agama Islam, Membangun Pribadi Muslim Moderat. Jakarta : Midada Rachma Press.
·       Rauf, A. A. A. 2011. Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah. Jakarta : Haqiena Media, Markaz Al-Qur’an.

Collaboraction sebagai Peran Multipihak dalam Upaya Perlindungan Pekerja Rumahan


PENDAHULUAN

Ketika mendengar kata ‘pekerja rumahan’, kebanyakan masyarakat mengasosiasikannya dengan pekerja rumah tangga. Hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan karena yang dimaksud pekerja rumahan adalah seseorang yang mengerjakan sebahagian produksi perusahaan, namun dikerjakan di rumah atau tempat lain yang dipilih sendiri oleh pekerja (Ros, 2018).
Permasalahan pekerja rumahan tidak sebatas pada pemahaman terhadap termnya sendiri, namun juga terjadi pada aktivitasnya di masyarakat. Jam kerja yang dibebankan kepada pekerja rumahan sering tidak sebanding dengan upah yang dibayarkan. Jam kerja pekerja rumahan di Medan memiliki rentang 12 bahkan 15 jam per hari dengan kisaran upah Rp. 3.500,00 – Rp. 15.000,00 per hari sangat jauh dengan UMK Medan yang berada pada kisaran Rp. 100.000,00 per hari. Pekerja rumahan juga tidak mendapatkan hak-hak seperti layaknya pekerja formal lainnya, seperti jatah cuti, lembur, jaminan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja.
Salah satu hal yang pekerja rumahan tidak didaftarkan pada jaminan sosial adalah tidak ada perjanjian kerja dengan pemberi kerja, sehingga antara pekerja dengan pemberi kerja tidak memiliki hubungan kerja (Aprilia, 2018). Sebsnyak 99% pekerja rumahan tidak memiliki kontrak tertulis. Data tentang nama, jumlah barang, waktu penerimaan dan penyetoran barang biasanya hanya terdapat di satu pihak, yaitu pengusaha (Cecil, 2018).
Jenis pekerjaan rumahan juga biasa dikenal sebagai pekerjaan borongan. Pekerjaan ini merambah dalam banyak komoditas, seperti batik (kain, kulit, kayu), tenun, konveksi, meubel (kayu dan rotan), kulit, tanah (gerabah, dll), makanan, monel, dll. (Swastuti, 2016). Pekerja rumahan memang banyak secara kuantitas, namun masih perlu dipertanyakan dalam hal kualitas. Upah yang diterima pekerja rumahan di Indonesia tidak sesuai dengan jam kerja yang dibebankan. Contohnya pekerjaan rumahan di Malang yang bekerja mengupas bawang hanya dihitung seharga Rp.1000,00 per kg. Dalam waktu satu hari dapat dihasilkan satu karung bawang yang berisi sekitar 60 kg yang dikerjakan oleh 3-4 orang, sehingga rata-rata per orang tidak mendapatkan upah lebih dari Rp.20.000,00 dalam sehari. Di Kalimantan Barat juga terdapat jenis pekerjaan rumahan berupa membungkus tempe yang dihargai Rp. 400,00 per satu bungkus dan mengikat sayur yang dihargai Rp. 300,00 per ikat. Ada juga pekerjaan menjahit tas perca yang hanya dihargai Rp. 2.500,00 per unit yang dapat dikerjakan dalam waktu satu jam.
Permasalahan pekerja rumahan juga tidak hanya pada jenis pekerjaan dan imbalan yang didapatkan, tetapi juga terkait dengan permasalahan kesetaraan gender. Pekerja rumahan dengan upah yang rendah didominasi oleh perempuan. Secara umum besar upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, yaitu Rp. 2.115.072,00 berbanding Rp. 1.644.458,00 (KPPA, 2015). Perbedaan perlakuan dalam pemberian uoah ini disebabkan karena perempuan dianggap bukan sebagai kepala keluarga sehingga tidak mendapatkan tunjangan keluarga, walaupun ada kemungkinan bahwa dia yang harus menanggung seluruh biaya kehidupan keluarganya.
Permasalahan pekerja rumahan cukup sulit diatasi, karena dilatarbelakangi oleh keadaan yang mendesak untuk mencari sumber perekonomian. Bahkan pekerja rumahan terkadang tidak hanya terjadi pada perempuan sebagai ibu dalam rumah tangga, namun bisa juga terjadi pada anak jika memang permasalahan utama keluarga tersebut adalah kemiskinan. Hal ini perlu segera ditindaklanjuti karena jika dibiarkan terus-menerus, keluarga pada masyarakat kalangan pekerja rumahan tersebut bisa terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan. Perlu upaya dari berbagai pihak, di antaranya pemerintah, pengusaha, warga masyarakat, dan mahasiswa.

PEMBAHASAN

Collaboraction merupakan representasi peran multipihak dalam menyelesaikan masalah pekerja rumahan. Semua pihak harus mengambil peran karena sistem yang terintegrasi dengan baik dapat menghasilkan sesuatu yang lebih berdampak daripada dilakukan secara terpisah satu sama lain. Peran strategis yang diambil dapat dibagi sesuai tanggung jawabnya dalam masyarakat, antara lain :
a.       Pemerintah
Peran yang dapat dilakukan hanya oleh pemerintah terutama adalah membuat kebijakan. Kebijakan ini berperan sebagai payung hukum agar pekerja rumahan mendapatkan perlindungan yang kuat sehingga tidak ada lagi permasalahan seperti misalnya kerugian apabila terjadi kecelakaan kerja yang ditanggung pribadi oleh pekerja rumahan, jam kerja yang tidak menentu, atau pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh pengusaha yang dapat terjadi kapan saja.
Sebagai anggota ILO (International Labour Organization), Indonesia seharusnya dapat meratifikasi Konvensi ILO C177 tentang Home Work. Payung hukum juga diperlukan terutama di tingkat Peraturan Kementerian agar memudahkan pembuatan peraturan daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Progress terkait pembuatan kebijakan sebenarnya sudah dilakukan oleh Provinsi Sumatera Utara dan DI Yogyakarta, namun belum sampai pada tahap disahkan. Perlu adanya pemerataan untuk seluruh pemerintah daerah akan kesadaran pentingnya perlindungan pekerja rumahan. Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik juga perlu melakukan pendataan dan kategorisasi terkait jenis pekerja rumahan.
Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi di daerahnya untuk membuat naskah akademik sebagai landasan kajian pembuatan peraturan daerah tentang perlindungan pekerja rumahan. Sangat diperlukan follow up secara rutin hingga akhirnya peraturan daerah tersebut dapat disahkan.
b.      Pengusaha
Hal yang pertama harus dilakukan adalah sosialisasi tentang apa itu pekerja rumahan kepada para pengusaha karena masih banyak yang belum mengetahui definisi yang jelas dari pekerja rumahan itu sendiri. Setelah itu, perlu adanya pembuatan kontrak kerja yang menjelaskan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja rumahan. Kontrak kerja tersebut harus mencakup penjelasan tentang jam kerja, cuti, lembur, jaminan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Pengusaha harus mampu menumbuhkan Perceived Organizational Support (POS), yaitu derajat kepercayaan karyawan bahwa perusahaan menilai kontribusi dan peduli terhadap kesejahteraan mereka (Robbins & Judge, 2017).
c.       Masyarakat
Kontribusi masyarakat dapat dilihat dari perannya sebagai LSM yang fokus terhadap isu pekerja rumahan, warga masyarakat secara umum, dan pekerja rumahan itu sendiri. Hal ini sudah dicontohkan oleh MAMPU kemitraan Indonesia-Australia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, bersama mitra-mitranya khususnya yang concern terhadap pekerja rumahan, seperti yayasan BITRA (Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia), MWPRI (Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia), TURC (Trade Union Right Centre), dan YASANTI (Yayasan Anisa Swasti). Masyarakat dapat bergabung dengan mitra yang sudah ada atau menginisiasi organisasi atau komunitas yang memperhatikan masalah kesejahteraan pekerja rumahan. Tugas utama LSM ini dapat berupa melakukan pencerdasan kepada para pekerja rumahan tentang hak dan kewajiban mereka sebagai pekerja dan mengusulkan kepada pemerintah untuk segera membuat kebijakan terkait perlindungan pekerja rumahan.
Warga masyarakat secara umum juga dapat mengambil peran dengan cara melaporkan kepada pemerintah, khususnya dinas tenaga kerja jika menemukan kasus pekerja yang tergolong ke dalam pekerja rumahan ataupun yang mendapatkan upah tidak layak dari pekerjaannya. Sementara untuk pekerja rumahan itu sendiri dapat menyatukan kekuatan dengan cara berkumpul lewat organisasi ataupun komunitas dan aktif menyuarakan pendapat mereka kepada pemerintah atau pihak pengusaha yang tidak melaksanakan kewajibannya yang selayaknya.
d.      Mahasiswa
Hal yang dapat dilakukan mahasiswa misalnya melalui kajian yang dilakukan Departemen Kajian dan Aksi Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa untuk membahas secara mendalam isu pekerja rumahan. Mahasiswa juga dapat menjadi pengontrol kebijakan yang menyuarakan aksinya pada pemerintah tentang pentingnya segera dibuat peraturan yang berisi perlindungan terhadap pekerja rumahan. Selain kajian, mahasiswa juga dapat melakukan soft movement seperti misalnya membagikan brosur tentang isu pekerja rumahan di titik-titik ramai masyarakat seperti taman kota atau alun-alun sehingga masyarakat menjadi lebih sadar adanya isu pekerja rumahan. Diskusi bersama ataupun seminar juga dapat dilakukan untuk membuka sudut pandang dari berbagai pihak, baik pemerintah, pengusaha, maupun pekerja rumahan di ranah lingkungan akademik. Hal tersebut dapat pula mendorong dihasilkannya naskah akademik dari universitas sebagai bahan pembuatan peraturan daerah.

KESIMPULAN

Penyelesaian masalah pekerja rumahan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau LSM yang fokus terhadap isu tersebut. Penyelesaian masalah dapat berlangsung efektif jika semua pihak saling berkolaborasi memaksimalkan perannya, baik pemerintah, pengusaha, warga masyarakat, pekerja rumahan itu sendiri, serta mahasiswa.

Referensi :

APRILIA, S. F. (2018). JAMINAN SOSIAL BAGI PEKERJA RUMAHAN SEKTOR MIKRO (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).

Cecil, dkk. (2018). Siapa pekerja rumahan, mengapa kita harus peduli?. Talkshow oleh kbr.id ditayangkan pada 05 September 2018 di Malang, 56 menit 24 detik.

Pemerintah Republik Indonesia. (2015). Profil tenaga kerja perempuan. Jakarta : Deputi Bidang Perlindungan Perempuan KPPPA.

Robbins, P. R. & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior 17th ed. England : Pearson.

Ros, dkk. (2018). Perlindungan hukum dan dukungan multipihak bagi pekerja rumahan. Talkshow oleh kbr.id ditayangkan pada 03 Oktober 2018 di Medan, 41 menit 42 detik.

Sriyati, dkk. (2018). Pengorganisasian dan pemberdayaan kelompok pekerja rumahan. Talkshow oleh kbr.id ditayangkan pada 19 September 2018 di Yogyakarta, 57 menit 29 detik.

Swastuti, E. (2016). Peran Serta Perempuan Dalam Pengelolaan Usaha Dagang Kecil Dan Menengah (UDKM) Di Jawa Tengah. Media Ekonomi dan Manajemen, 27(1).

Minggu, 28 Oktober 2018

Mengejar Kebahagiaan



Dia tersenyum, apakah sudah pasti dia bahagia?
Dia tertawa, apakah sudah pasti dia sangat sangat bahagia?
Dia terlihat murung, apakah sudah pasti dia tidak bahagia?
Dia menangis meraung, apakah sudah pasti dia sangat tidak bahagia?

Terkadang apa yang terlihat oleh mata, belum tentu sama dengan yang terjadi dalam hati. Seperti itu pula kebahagiaan. Apakah kebahagiaan dapat diukur dengan ekspresi wajah yang terlihat? Belum tentu. Bukankah ada orang yang menutupi kesedihannya dengan senyuman ataupun keceriaan?
Sampai saat ini belum ada alat ukur pasti kebahagiaan. Tidak ada ada definisi yang jelas tentang kebahagiaan. Karena jika setiap orang ditanya tentang apa yang membuatnya bahagia, maka jawabannya berbeda-beda. Seperti layaknya kebanyakan jawaban anak jurusan Psikologi, yaitu ‘tergantung’.

Orang yang kelaparan, bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah makanan. Orang yang kekurangan harta, bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah harta kekayaan. Orang yang sedang sakit, bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah kesehatan. Orang yang memiliki latar belakang broken home, bisa jadi sumber kebahagiaannya adalah keluarga yang harmonis. Ya, sumber kebahagiaan setiap orang berbeda-beda.

Namun, tidak selamanya hal di atas pasti terjadi. Tidak selamanya sumber kebahagiaan berasal dari sesuatu yang kita ‘tidak punya’. Di luar sana, masih banyak orang yang kekurangan harta, kekurangan makanan, atau memiliki fisik yang tidak sempurna, tidak memiliki keluarga yang utuh, namun mereka tetap bahagia. Mereka tetap bisa tersenyum menikmati hidup. Sementara di sisi lain, ada orang yang memiliki harta berlimpah tapi tidak bahagia, ada yang diberi kesehatan tapi tidak menjaga kesehatannya dengan baik, ada yang memiliki keluarga utuh tapi tidak saling menjaga.

Lalu, apa sebenarnya kebahagiaan itu?

Dalam KBBI, kebahagiaan didefinisikan dengan kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. Dari definisi ini, kita mungkin bisa menyoroti pada kondisi lahir dan ‘batin’. Ya, sejalan dengan kondisi batin. Orang yang bahagia tidak hanya dapat diukur dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum ataupun tertawa lebar, karena batin kita pun harus merasakan kebahagiaan tersebut. Bahagia menjadi sulit diukur karena batin kita bukanlah hal yang bisa kita observasi secara langsung.

Kebahagiaan bergantung pada ‘nilai’ apa yang kita miliki. Nilai adalah segala sesuatu yang kita anggap penting. Misalnya, jika seseorang memiliki nilai kejujuran. Ia akan bahagia jika ia bisa jujur dalam situasi apapun. Ia tidak akan bahagia jika mendapat nilai memuaskan dalam ujian, tetapi hasil dari perilaku mencontek. Namun ia bisa tetap bahagia meskipun mendapat nilai kurang bagus tetapi hal itu merupakan hasil usahanya sendiri semaksimal yang ia mampu.

Oleh karena itu, milikilah nilai yang tidak dapat diukur, tidak sekadar materi yang dapat terlihat. Terkadang kita tidak bahagia, karena kita salah membandingkan. Kita salah membandingkan diri kita dengan orang yang memiliki hal yang kita ‘tidak punya’, dan hal yang kita ‘tidak punya’ itu merupakan sesuatu yang dapat diukur dalam angka. Cobalah kita membandingkan diri kita dengan orang lain bukan dari segi harta yang ia miliki, bukan dari segi penampilan fisik yang terlihat, bukan pula dari seberapa banyak followers-nya, nah lho. Tapi bandingkan diri kita dengan orang lain dari seberapa banyak kebaikan yang telah diperbuat, seberapa banyak diri kita bermanfaat untuk lingkungan sekitar, dan seberapa baik kualitas akhlak kita.

Di luar sana masih ada orang yang kekurangan harta namun dapat melanjutkan pendidikan, masih ada orang dengan fisik tak sempurna namun tetap berprestasi, dan masih ada orang yang berasal dari keluarga tak ideal namun pada akhirnya bisa membangun keluarga strategis. Semua ini tergantung pada pilihan kita, fokus kepada apa yang kita ‘tidak punya’ dan menjadikannya penyebab ketidakbahagiaan kita, atau memilih fokus kepada apa yang kita ‘punya’ dan memaksimalkannya sehingga membuat kita lebih bersyukur?

 “Orang yang benar-benar bahagia adalah ia yang tidak mengejar kebahagiaan.”

Semoga apa yang membuat kita bahagia adalah sesuatu yang bernilai dan tak terhingga, sehingga kebahagiaan kita pun tak terhingga.

Selasa, 31 Juli 2018

Ini tentang Damai



Damai
Dalam ricuh ia terdiam
Ambang amarahnya tersulut, luhur
Mengorek isi keramaian kebiasaannya
Awaknya rusuh setelah kepalanya penuh
Iktikadnya sejalan asa sesama

Kala panah lidah tak saling menghujam
Di sana pemantik sudah padam
Kala jiwa malang dapat tenang
Di sini nurani segar tak usang
Kala orang kebanyakan tak banyak berberai
Di situlah menurutnya damai tercapai

Ideal memang pemikirannya
Acuh pada makanan batinnya
Mewah peradaban bisa terjamah
Asalkan teraktualisasi dalam jemaah
Disemogakan saja agar segera tercapai
Damai

Kontrol Diri dari Dalam, Rendah Hati pada Alam

Tulisan ini akan lebih banyak bicara refleksi diri, Tentang keberadaan diri yang kadang lupa diri, Tinggal bersama alam namun kita seakan...