Kamis, 17 Oktober 2019

Sebuah Cerita Anak Semester 5





Hallo! kenalin gue Widiya Psikologi UI 2017. Melalui tulisan ini, gue mau berbagi tentang dunia perkuliahan, dari awal pendaftaran sampai sekarang sudah di tengah jalan.

Gue tertarik dengan psikologi sejak kelas 3 SMP dan semakin yakin untuk kuliah di jurusan psikologi setelah masuk SMA. Tentunya, tidak semudah itu untuk mendapatkan persetujuan dari orang tua berkuliah di jurusan psikologi. Awalnya dibilang “Kamu mau baca pikiran orang?”, “Kamu mau ngeramal?”, “Psikolog itu lakunya cuma di kota, kalo di daerah emang bisa?”. Banyak stigma yang melekat di jurusan psikologi termasuk juga masalah kesehatan mental. Banyak usaha yang udah gue lakuin dari mulai ngajar diskusi sama orang tua, ngejelasin prospek kerja bidang psikologi, bahkan ampe nangis untuk minta dikasih kepercayaan akan pilihan sendiri yang udah ditentukan.

Singkat cerita, gue coba daftar SNMPTN. Gue anak IPA yang nekat milih soshum jurusan Psikologi UI, udah gitu gue cuma milih 1, padahal maksimal bisa milih 3 pilihan. Hasilnya jelas, gue TIDAK DITERIMA. Di samping itu semua, sebenarnya ada masalah finansial yang menimpa keluarga gue, sehingga waktu itu gue punya pilihan untuk kuliah di tahun itu juga (2017) tapi di daerah sendiri atau kuliah sesuai jurusan yang diinginkan tapi jeda dulu tahun depan untuk ngumpulin biayanya dulu. Selain masalah finansial, ada juga masalah perizinan untuk kuliah di luar kota “kamu itu anak perempuan, kuliah di Jakarta? disana gak punya siapa-siapa?”. Bukan hal yang mudah memang meyakinkan orang tua, tapi dengan usaha dan do’a yang tak pernah putus, insyaAllah bisa.

Setelah ditolak SNPMTN, gue coba daftar SBMPTN. Gue pilih PSIKOLOGI UI (Pilihan 1), PSIKOLOGI UGM (Pilihan 2), dan ILMU EKONOMI UI (Pilihan 3). Kesannya kaya gak mikir dan gak pake perhitungan emang ye gue milih jurusan. Tapi waktu itu, gue mikir kalo gak papa gue pilih yang emang gue pengen aja, yang bagus bagus sekalian gak usah tanggung-tanggung toh kan ini buat nyoba aja dulu dan latihan buat SBMPTN taun depan. H-1 minggu SBMPTN gue GAK DIIZININ SBMPTN sama Bapak. Alasannya adalah bingung gimana ke Jakarta dan siapa yang mau nganter. Alhasil 1 minggu itu gue udah susah fokus buat belajar SBMPTN, gue gak ngambil les sama sekali, dan bahkan cuma belajar dari buku SKS (Sistem Kebut Semalam) itupun punya temen gue. Ya Allah Wid, niat gak sih lu? :(

Tapi Alhamdulillah, waktu itu gue dikenalin sama kakak kelas yang kebetulan kuliah di UNJ tempat gue SBMPTN. Dari dia, gue dapet banyak informasi tentang gimana akomodasi ke sana, dan bahkan mau ngejemput dari stasiun dan nganterin sampe tempat gue ujian SBMPTN. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah mudahkan. Waktu itu gue akhirnya dianter Mamah dan 1 temen gue yang kebetulan kebagian SBMPTN di UNJ juga.

Anak IPA yang fully nekad milih soshum. Untuk TPA, Alhamdulillah gak banyak masalah karena gue udah sering berlatih sama temen-temen SMA juga. Untuk TKD, wah warbyasah, ada sosiologi, sejarah, ekonomi, dan geografi, Untuk sosiologi masih mending karena gue dapet materinya waktu kelas 1 SMA, sejarah setidaknya gue pun masih belajar, ekonomi sama geografi udah pokonya isi aja pake nalar. Waktu itu gue ngisi sekitar 60an dari 90an soal TPA. Dan 50an dari 60an soal TKD, pas ngisi TKD itu gak tau kenapa pokonya gue mikir "gak papa isi aja sebanyak-banyaknya” setidaknya waktu itu masih ada sistem (benar = 4, salah = -1). Keluar dari ruang ujian, pokoknya gue serahin semuanya sama Allah, meskipun gak tau dah ngisi soalnya bener atau salah.

Senin, 29 Juli 2019

Bicara Tabu : Perkosaan, Dorongan Seksual atau Hal Lain?



Judul : Perkosaan dan Kekuasaan

Penulis : Bagus Takwin, dkk.

Penerbit : Yayasan Jurnal Perempuan

Tanggal Terbit : November 2011

Jumlah Halaman : 153 halaman

Buku ini sebenarnya merupakan jurnal berseri yang terbit setidaknya empat kali dalam setahun. Namun, topik yang dibahas dalam edisi ke-71 ini cukup menarik untuk saya buat reviewnya, terlebih saya memang memiliki ketertarikan dalam bidang perempuan dan anak, khususnya tentang pendidikan seksual.

Berbicara tentang perkosaan ternyata bukan hanya berbicara tentang dorongan seksual, tapi juga berbicara tentang kekuasaan. Alasan utama dibalik pelaku perkosaan bisa jadi bukan ketidakmampuan menahan dorongan seksual saja, tapi yang lebih utama adalah menunjukkan bahwa ia memiliki kekuasaan, memiliki dominasi terhadap perempuan. Pelaku tidak memperkosa korbannya tiba-tiba tanpa perencaan. Ia akan memilih korban tergantung seberapa besar ia bisa menguasainya.

Buku ini cukup direkomendasikan karena di dalamnya tidak hanya bicara opini belala, namun disertai rujukan ilmiah. Ada pula tulisan opini, cerita reflektif, dan puisi yang menjadi representasi topik yang dibahas. Sangat direkomendasikan terutama buat kamu yang bergelut dalam bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selamat membaca!

Bicara Hati



Judul : Hati tak Bertangga

Penulis : Adi Prayuda dan Ikhwan Marzuqi

Penerbit : Metagraf

Tahun Terbit : Cetakan I, 2019

Jumlah Halaman : 226 halaman

Buku ini cukup sederhana, membahas hal-hal kecil namun ternyata punya makna yang besar. Dari buku ini kita bisa belajar kemampuan berlogika dan berperasaan. Tanpa saling menunjukkan kelemahannya masing-masing, namun bagaimana kita menyeimbangkan keduanya.

Membaca buku ini seperti diajak melakukan perjalanan ke dalam diri. “Bahagia memamg sederhana, menderita juga sederhana”, begitu tulis penulis dalam sampulnya. Ini berbicara tentang penerimaan, penerimaan diri juga hidup yang kita miliki.

“Ukuran terindah memcintai adalah mencintai tanpa mengukurnya”, kutipan dari Guruji Gede Prama ini cukup bisa menggambarkan tentang apa maksud dari judul ‘Hati tak Bertangga’. Buat kamu yang sedang butuh teman untuk berdialog dengan diri, buku ini saya rekomendasikan! Selamat membaca!

Rabu, 03 Juli 2019

Sebuah Jalan Pemurnian Hati



Judul : Purification of the Heart

Penulis : Hamza Yusuf

Penerjemah : Haris Priyatna

Penerbit : Mizan

Tanggal Terbit : Cetakan I, Februari 2017

Jumlah Halaman : 318 halaman

Buku ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang menyukai buku-buku yang membahas tentang akhlak maupun mujahadatun-nafs (penyucian jiwa). Buku yang ditulis oleh Hamza Yuzuf, salah satu pendiri Zaytuna College di AS ini berisi tentang penjelasan penyakit-penyakit hati, penyebabnya, tanda dan gejalanya, serta pengobatannya.

Terdapat 25 penyakit hati yang dibahas, antara lain : kikir; serakah; benci; zalim; cinta dunia; iri hati; santun yang tercela; berkhayal; takut miskin; riya; bergantung pada selain Allah; tak senang dengan keputusan Allah; sum’ah; harapan palsu; pikiran negatif; ujub; menipu; amarah; lalai; dendam; membual dan sombong; tidak mau disalakan; antipati terhadap kematian; lupa akan nikmat; dan menghina.

Buku ini tentunya akan sangat baik, jika tidak hanya dibaca namun yang terpenting adalah diamalkan isinya. Jika kita mengamalkan isinya, kita akan bisa meraih ketenteraman dan kemurniah hati, insyaAllah!

Melihat Islam dengan Pikiran Terbuka



Judul : Islam yang Saya Anut

Penulis : M. Quraish Shihab

Penerbit : Lentera Hati

Tahun Terbit : Cetakan III, November 2018

Jumlah Halaman : 338 halaman

Buku ini berisi tentang bagaimana Islam dari sudut pandang M. Quraish Shihab. Beliau mengantarkan tentang bagaimana Islam sangat kaya akan perbedaan, baik dari madzhab-madzhabnya yang kesemuanya berpotensi benar dan atau salah.

Penulis menguraikan aspek-aspek pokok dalam Islam, seperti akidah dalam pembedahan rukun Iman, syariah dalam pembedahan rukun Iman, serta akhlak Islam dalam berihsan. Penulis juga mengajak kita memahami Islam dengan pikiran terbuka, berlogika dengan adab-adabnya, dan menggunakan hati nurani dalam melihat Islam.

Buku ini sangat cocok dibaca bagi siapapun yang ingin mendalami Islam, baik dari Muslim sendiri maupun dari non-Muslim. Bahasannya cukup berat, namun sangat bermanfaat!

Minggu, 26 Mei 2019

While There's Hope, There's Life



Judul : I AM SARAHZA

Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Penerbit : Penerbit Republika

Tanggal Terbit : Cetakan III, Juli 2018

Jumlah Halaman : 368 halaman

Buku setebal 368 halaman ini, aku tamatkan dalam 1 hari. Entah mengapa rasanya tak ingin digantung cerita, jika tak menamatkan buku ini segera. Isinya yang begitu hidup seakan membuat kita masuk ke dalam cerita, mengikuti alunan emosi dari canda hingga duka.

MasyaAllah luar biasa perjuangan Mbak Hanum dan Mas Rangga dalam memiliki momongan. 4 kali inseminasi, 6 kali mengikuti program bayi tabung, 2 kali laparaskopi, mengandung namun ternyata janin itu kosong tanpa ruh, mengandung lagi namun ternyata sang janin menempel di luar rahim hingga harus diangkat beserta sebelah tuba falopi sang ibu. Hingga akhirnya, setelah 11 tahun pernikahan, Allah menjawab do’a-do’a itu dengan kehamilan Mbak Hanum tepat saat usianya menginjak 35 tahun.

Mbak Hanum dan Mas Rangga, terima kasih sudah berbagi, terima kasih sudah mau menuliskan kisah yang bahkan memerlukan keluasan hati yang sangat ketika mengingatnya. Terima kasih telah mengingatkan kembali pada keharusan berpegang pada prinsip, kesabaran yang begitu luar biasa, bersyukur dalam segala keadaan, bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian, dan tentunya nasihat pak Amien Rais agar kita selalu dekat dengan Tuhan. Semoga Allah memberkahi mbak Hanum dan keluarga, terutama Sarahza.

Untuk pembaca, saya sangat merekomendasikan buku ini bagi teman-teman yang ingin belajar sabar, belajar menerima takdir, dan belajar bijak dalam menempatkan diri sesuai keharusannya.

Sabtu, 25 Mei 2019

Sebuah Perjalanan Cinta dan Asa



Judul : Awe-Inspiring Us

Penulis : Dewi Nur Aisyah

Penerbit : Penerbit Ikon

Tahun Terbit : Cetakan II, Januari 2019

Jumlah Halaman : 370 halaman

Buku ini terdiri dari 5 bab, yang terdiri dari kisah Mbak Dewi N. Aisyah dan keluarga tentang penantian sebelum menikah, bertemu jodoh dan menerima segala kurang lebihnya, membangun rumah tangga, keajaiban memiliki anak dan segala perjuangannya, dan tantangan berumah tangga sambil berkuliah. Plus kisah tinggal di luar negeri, yaitu di London, Inggris dan segala dinamikanya.

MasyaAllah, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah penulis. Dari buku ini saya belajar tentang :

1) Produktivitas dan kaitannya yang kuat dengan manajemen waktu yang baik

2) Perjuangan menuntut ilmu tanpa lelah, karena yang dikejar adalah Ridho Allah

3) Membangun rumah tangga yang samawa itu bahkan dipersiapkan sejak masa penantian

4) Kolaborasi ayah dan ibu dalam segala perencanaan hidup dan eksekusinya

5) Anak adalah masa depan peradaban yang harus dipersiapkan dengan sangat baik

Tentunya apa yang bisa diambil dari buku ini sangat subjektif, tergantung bagaimana perspektif masing-masing pembaca. Tapi bagi saya, buku ini sangat recommended, terutama bagi seseorang yang ingin sukses dalam kehidupan spiritual, akademik, dan juga keluarga.

Selamat membaca!

Kontrol Diri dari Dalam, Rendah Hati pada Alam

Tulisan ini akan lebih banyak bicara refleksi diri, Tentang keberadaan diri yang kadang lupa diri, Tinggal bersama alam namun kita seakan...