Selasa, 02 April 2019

Belajar dari Balik Bilik Nabi



Sumber pict : Bukalapak

Judul : Bilik-Bilik Cinta Muhammad

Penulis : Dr. Nizar Abazhah

Penerjemah : Asy’ari Khatib

Penerbit : penerbit zaman

Tahun Terbit : Edisi Baru, Cetakan II 2015

Jumlah Halaman : 332 halaman

Membaca buku ini seakan kita dibawa pada kehidupan Rasulullah SAW. dalam lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Buku ini menceritakan bagaimana dinamika kehidupan Rasulullah SAW. dari mulai beliau tinggal di rumah Abu Thalib setelah kepergian ayah, ibu, dan kakeknya, di rumah Khadijah, kehidupan setelah hijrah ke Madinah, dan di rumah Ibu-Ibu Kaum Mukmin, para istrinya r.a. Buku ini juga menceritakan tentang bagaimana akhlak Rasulullah terhadap penghuni rumah lainnya, seperti para budak yang beliau miliki maupun tamu yang berkunjung ke rumah.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari buku ini, tentang bagaimana Rasulullah bersikap sopan dan santun pada keluarga pamannya, Abu Thalib, kemudian perjuangan selama masa awal kenabian yang ditemani Ummul Mukminin Khadijah r.a., hijrah ke Madinah, dan tinggal bersama para istrinya setelah meninggalnya Khadijah r.a. Di rumahnya, kita bisa melihat akhlak Rasulullah SAW. yang begitu mulia. Rasulullah SAW. bahkan memperlakukan budak seperti keluarganya, tidak pernah memaki para budaknya, atau komplain dan banyak menyuruh. Di rumahnya, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW. mendidik istrinya, berlaku adil secara lahir terhadap giliran para istrinya, dan tak segan menegur jika ada istrinya yang cemburu secara berlebihan. Rasulullah mendidik dengan kelembutan, namun di sisi lain tegas dalam menegakkan syariat Islam dan tak segan menghukum jika keluarganya berperilaku tidak sesuai dengan akhlak yang diajarkan Islam.

Dari buku ini kita juga belajar bahwa rumah merupakan pintu pertama melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, dan keluarga sebagai supporting system dalam perjuangan dakwah. Kehidupan di rumah Rasulullah SAW. merupakan kehidupan yang sederhana tanpa kemewahan, penuh cinta kasih, saling menghormati dan selalu mendahulukan orang lain.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang ingin lebih dekat dengan Nabi dan lebih banyak dalam hal meneladani akhlaknya. Di tengah nikmatnya membaca, kamu mungkin merasakan sensasi sedih akan kehidupan Rasulullah SAW. yang begitu prihatin atau merasa ‘buruk’ dengan dirimu sendiri yang kurang bersyukur akan nikmat yang telah Allah berikan. Selamat membaca dan semoga kamu bisa mendapat banyak hikmah!

Jumat, 01 Maret 2019

Kesenjangan Sosial Ibukota yang Memedaskan Mata



Pemandangan pemukiman kumuh di antara gedung-gedung tinggi merupakan pemandangan yang lumrah kita temui di sepanjang jalur commuter line DKI Jakarta. Hal ini menjadi salah satu potret kesenjangan sosial yang dapat kita amati di ibukota. Seperti pendapat Djarot Saiful Hidayat, Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, masalah DKI Jakarta bukanlah kemiskinannya, tetapi kesenjangannya yang tinggi. Hal ini disebabkan karena orang paling kaya dan orang miskin banyak tinggal di Jakarta (Hariyanto, 2017). Dari mulai hunian apartemen dengan harga ratusan juta rupiah per meter persegi hingga keluarga yang hanya tinggal di dalam gerobak ada di Jakarta.

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidak seimbangan sosial yang ada dalam masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok (Soekanto dalam Yasminiati, 2015). Salah satu faktor penyebab kesenjangan tersebut adalah faktor ekonomi berupa kemisikinan. Berdasarkan data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) pada Maret 2018, persentase penduduk miskin di Jakarta mencapai 3,57 persen atau mencakup sebanyak 373,12 ribu orang. Gini Ratio DKI Jakarta pada Maret 2018, diperkirakan sebesar 0,394. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0 – 1, semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi (BPS Provinsi DKI Jakarta, 2018).

Kemiskinan sebagai salah satu penyebab kesenjangan sosial yang lebar dapat menyebabkan masalah-masalah sosial lain seperti kesehatan, pendidikan, dan angka kriminalitas yang tinggi. Salah satu contoh permasalahan di bidang kesehatan adalah tingginya prevalensi gizi buruk di Jakarta. Berdasarkan pemaparan Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada tahun 2017, prevalensi gizi buruk akibat stunting pada usia 0-59 bulan di Provinsi DKI Jakarta mencapai 22,7% dengan kasus tertinggi di Jakarta Pusat (29,2%) dan tertinggi kedua di Jakarta Timur (25,7%). Angka ini termasuk kategori akut kronis karena di atas batasan WHO yakni >20 persen (Bappeda Provinsi DKI Jakarta, 2018). Contoh lain kesenjangan di bidang pendidikan terjadi di Jakarta Utara, pelajar yang bersekolah ada sekitar 52%, ini berarti ada 48% yang tidak bersekolah. Menurut Anies Baswedan yang merupakan pakar dan mantan menteri pendidikan, angka ini menunjukkan kesenjangan yang jauh (Yusuf, 2017). Meskipun biaya pendidikan sudah disubsidi oleh pemerintah, yang menjadi masalah adalah ketidakmampuan dalam memenuhi biaya transportasi pendidikan yang cukup tinggi di Jakarta. Selain itu, permasalahan lain yang ditimbulkan oleh kesenjangan sosial adalah tingginya angka kriminalitas di Jakarta yang ditunjukkan dengan Polda Metro Jaya sebagai peringkat pertama Polda dengan kejahatan terbanyak yaitu mencapai 43.842 kejahatan pada tahun 2016 (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2017).

Kesenjangan sosial merupakan salah satu isu yang erat kaitannya dengan masyarakat urban (perkotaan). Perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi dianggap menawarkan lapangan pekerjaan yang lebih menjanjikan. Namun, jika masyarakat desa yang berbondong-bondong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan itu tidak memiliki kualitas SDM yang memadai, ini dapat menjadi permasalahan. Pada akhirnya, mereka mungkin menjadi pengangguran yang menciptakan pemukiman pada tanah yang sudah bertuan. Pemukiman tersebut tidak dibuat sebagaimana mestinya sesuai standar kelayakan, karena memang tidak dibangun di atas tanah hak milik pribadi sehingga sewaktu-waktu bisa saja digusur oleh pemilik tanah yang sebenarnya. Sanitasi yang buruk dan pemenuhan kebutuhan dasar yang alakadarnya membuat masyarakat pada kalangan tersebut memiliki standar kualitas hidup yang rendah. Inilah yang menjadikan jarak antara si miskin dan si kaya di perkotaan semakin senjang.

Solusi yang ditawarkan pemerintah seperti subsidi sembako dan perumahan di ibukota sudah cukup baik. Namun, meskipun kesenjangan sosial terjadi paling tinggi di perkotaan, penyelesaian masalah sebaiknya juga dilakukan dari wilayah pedesaan. Potensi agrikultural di wilayah pedesaan juga harus terus dimaksimalkan, agar masyarakat desa tidak terus menerus pergi ke ibukota untuk mencari lapangan pekerjaan yang belum tentu menjanjikan.

Rabu, 27 Februari 2019

Belajar Sabar dari Memoar Ki Hadjar

Judul : Ki Hadjar Sebuah Memoar

Penulis : Haidar Musyafa

Penerbit : Penerbit Imania

Tanggal Terbit : April 2017

Jumlah Halaman : 547 halaman

Membaca buku ini seakan kita dibawa ke masa perjuangan pendirian bangsa Indonesia. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari seorang Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Ki Hadjar sudah menjadi aktivis pejuang kemerdekaan sejak masih muda. Berawal menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran bersama Cipto Mangoenkoesoemo, namun pada akhirnya berkecimpung di dunia pendidikan karena sempat tidak lulus dalam bidang kedokteran.

Emosi kita seakan terbawa marah saat penulis menceritakan kekejaman Belanda sewaktu menjajah Indonesia, ada juga kesedihan-kesedihan ketika Ki Hadjar harus menjadi tahanan karena beliau melakukan pergerakan-pergerakan yang dapat mengancam pemerintahan Belanda waktu itu. Kita juga diajak bahagia dan merasa tenang ketika mengetahui di samping Ki Hadjar terdapat sosok-sosok luar biasa seperti ayahnya, kakaknya, dan istrinya Nyi Soetartinah yang luar biasa sabar.

Ki Hadjar yang memiliki nama kecil Soewardi dididik dengan pendidikan agama yang sangat kuat. Hal ini biasanya menjadi pola ketika aku membaca novel sejarah, di mana para pahlawan pasti memiliki fondasi agama yang kuat yang menjadikan jiwa mereka kuat ketika melawan penjajah karena berpegang pada Sesuatu non-material. Begitu pula Ki Hadjar, kombinasi karakter agamis ditambah nasionalis menjadikannya memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat waktu itu terlebih beliau juga merupakan keturunan ningrat namun memiliki sifat yang sangat merakyat, bahkan menolak untuk disebutkan gelar yang ia miliki.

Kepribadian Ki Hadjar sungguh luar biasa, banyak yang dapat dipelajari dalam buku ini. Penulis pun menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana, sehingga pesan yang ada dalam buku ini cukup tersampaikan. Buku ini bisa menemanimu terutama juga sedang dalam aktivitas menunggu. Selamat membaca!

Dosamu Tidak Lebih Besar daripada Kasih Sayang Allah

Judul : Your Sin is not Greater than God’s Mercy

Penulis : Nouman Ali Khan

Penerbit : Noura Book Publishing

Tanggal Terbit : Agustus 2016

Jumlah Halaman : 296

Berat Buku : 300 gr

Buku dengan tebal kurang dari 300 halaman ini terdiri dari 21 tema, terutama membahas tentang akhlak. Isi buku ini merupakan transkrip dari ceramah Nouman Ali Khan yang juga dapat dilihat di Youtube, tapi tentunya sensasi membaca buku dan menonton video berbeda, tergantung pilihan masing-masing. Gaya bahasa dalam buku ini sangat baik, memiliki muatan nasihat melalui hikmah-hikmah cerita yang disampai, namun kelebihannya tidak terkesan menggurui.

Nouman Ali Khan mengajak kita untuk berpikir tentang detail kehidupan sehari-hari kita yang kadang luput dari perhatian, seperti sesederhana belajar dari lebah dan pentingnya membangun keluarga yang menyenangkan. Nouman Ali Khan juga banyak membahas tentang mukjizat-mukjizat Al-Qur’an dan kebaikan-kebaikan Allah yang luar biasa jika kita mempelajari substansi Al-Qur’an dari kata per katanya.

Nouman Ali Khan dalam buku ini banyak mengajarkan tentang akhlak seperti menjaga hati, rendah hati, menyembuhkan derita emosi, mengatasi kesulitan hidup, jangan putus asa maupun iri hati, dan meneladari Rasulullah SAW. Buku ini sangat cocok bagi orang yang selalu ingin memperbaiki setiap harinya atau sedang dilanda putus asa akan dosa. Membaca buku ini setiap hari setidaknya dapat menjaga dirimu dari keburukan jika kamu dapat mengingat nasihat-nasihat baik yang disampaikan dalam buku ini. Desainnya yang bagus juga membuat matamu tak bosan dan ukurannya yang kecil bisa kamu bawa kemana saja.

Kamis, 31 Januari 2019

Catatan Seorang Pembelajar



Buku ini menjadi guru sebelum aku terjun aksi pada GUIM (Gerakan UI Mengajar) Angkatan 8. Banyak yang bisa dipelajari dari buku ini. Penulis buku merupakan pengajar dan panitian GUIM Angkatan 5 yang melakukan aksi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada tahun 2016. Banyak kisah yang mewarnai cerita dalam buku ini.

Ada panitia yang menemukan arti kebahagiaan dalam ceritanya, ada yang bertemu dengan murid yang berjanji untuk berubah menjadi lebih baik, ada pula yang berhasil keluar dari zona nyamannya di ibukota dan menemukan zona nyaman baru di wilayah aksinya.

Bagi orang yang tertarik dengan dunia pendidikan, buku ini sangat aku rekomendasikan. Terutama untuk orang yang memilih terjun langsung menangani masalah di masyarakat dan tidak sekadar protes dengan kebijakan pemerintah yang ada.

Selasa, 01 Januari 2019

33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan Ala Timothy D. Walker dalam Teach Like Finland

Dalam bukunya 'Mengajar Seperti Finlandia', Timothy D. Walker seorang guru Amerika yang pindah ke Finlandia membagikan 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan sesuai 5 bahan kebahagiaan, yaitu kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan, dan pola pikir.

1) Kesejahteraan

Bahan kebahagiaan pertama, yaitu kesejahteraan; intinya berbicara tentang bagaimana terpenuhinya kebutuhan pokok, sehingga tidur, makan, minum yang cukup, tersedianya pakaian dan tempat bernaung menjadi prasyarat bagi diri kita (guru) dan peserta didik di kelas kita. Terdapat 7 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan dalam bahan kebahagiaan ini :

a. Jadwal istirahat otak

Finlandia memiliki kebiasaan istirahat 15 menit setiap 45 menit pelajaran. Pada jam istirahat tertentu ini, biasanya siswa bermain keluar atau bersosialisasi dengan teman-teman mereka. Ini penting untuk mengistirahatkan otak siswa sehingga mereka lebih fokus selama pelajaran.

b. Belajar sambil bergerak

Selama ini, pembelajaran di sekolah-sekolah lebih banyak dilakukan secara duduk-duduk atau berdiri di depan kelas selama presentasi. Cara ini relatif kurang produktif. Akan lebih baik jika pengajar menawarkan 'energizer' atau 'ice breaking' selama pelajaran. Presentasi juga dapat dilakukan melalui strategi 'Galeri Berjalan' di mana para siswa berkumpul secara berkelompok kemudian mereka melakukan presentasi di beberapa titik di dalam kelas. Setiap kelompok dibagi ke dalam 2 peran, yaitu sebagai presentan dan audience. Presentan diam di tempat dan menjelaskan pada audience kelompok lain. Sementara audience berjalan mengunjungi setiap kelompok untuk mendengarkan presentasi kemudian memberikan feedback.

c. Recharge sepulang sekolah

Tidak ada pekerjaan rumah di Finlandia, karena guru-guru di sana memahami pentingnya waktu luang terutama di malam hari untuk mengisi ulang tenaganya.

d. Menyederhanakan ruang

Biasanya di awal tahun ajaran, kita mengalokasikan waktu untuk menghias kelas; atau bisa juga di tengah tahun ajaran kita memajang hasil karya siswa di dinding-dinding kelas. Namun ternyata, membuat ruang kelas kita lebih rapi dan sederhana bisa lebih menghemat waktu dan mengurangi gangguan eksternal dalam proses belajar mengajar.

e. Menghirup udara segar

Siswa-siswa di Finlandia memerhatikan kualitas udara di dalam kelas sehingga mereka memiliki kebiasaan membuka jendela kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.

f. Masuk ke alam liar

Masuk ke alam liar bukan berarti siswa diajak ke hutan untuk belajar. Ini bermakna mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat apa yang mereka pelajari secara lebih nyata. Sebagai guru, kita bisa memikirkan tentang tempat-tempat alami yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolah. Ini dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti menggunakan lapangan sebagai habitat suatu organisme, menanam kentang di beberapa titik di ruang kelas,menghijaukan sekolah melalui beberapa proyek, atau bahkan memelihara kecebong ketika mempelajari siklus hidup katak.

g. Menjaga kedamaian

Menjaga kedamaian berarti menjaga kelas dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Strategi ini dapat dimulai dengan membuat peraturan bersama siswa, seperti misalnya menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menghormati lingkungan serta menjadi pendengar yang baik.

2) Rasa Dimiliki (sense of belonging)

Strategi di bawah ini digunakan untuk membudayakan suatu perasaan saling terhubung di kelas kita.

a. Mengenal setiap anak

Ini merupakan strategi untuk memberikan pesan bahwa kita (guru) mengenal siswa secara individual, bukan sekadar sekelompok anak. Caranya dapat dilakukan dengan menyapa nama mereka satu persatu, fist bumps, jabat tangan, atau high fives. Guru juga bisa meluangkan waktu untuk makan bersama siswa saat jam istirahat atau mengunjungi rumah siswa dan mengobrol dengan orang tua mereka di waktu-waktu tertentu.

b. Bermain dengan murid-murid

Strategi ini biasa dilakukan pada minggu pertama di tahun ajaran baru. Guru bermain dengan siswa dengan tujuan agar mereka merasa nyaman di sekolah sebelum kegiatan yang sebenarnya dimulai.

c. Merayakan pembelajaran mereka

Di Finlandia, pelajaran di kelas tidak hanya berupa pengetahuan tetapi juga keterampilan seperti kelas memasak. Siswa biasanya diberi waktu tambahan sekitar 15 menit untuk menikmati hasil masakan mereka sebagai bentuk merayakan pembelajaran mereka. Strategi ini bisa juga dilakukan untuk aktivitas seperti pembuatan laporan buku atau teks bacaan. Siswa diberikan waktu sekitar 15 menit untuk mempresentasikan hasil pembelajaran mereka.

d. Mengejar mimpi kelas

Ini dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis proyek. Jadi guru dan siswa membuat suatu proyek bersama di mana setiap orang mendapatkan peran dan proyek yang dilaksanakan cukup realistik. Dalam buku ini, Tom memberikan contoh kegiatan Kemah Sekolah.

e. Menghapus perisakan (bullying)

Di sekolah Finlandia, terdapat semacam program anti bullying yang dinamakan Kiva. Inti dari program ini adalah siswa belajar untuk menawarkan solusi dari sebuah konflik yang lebih dari kata 'maaf' dan belajar merefeleksikan perilaku mereka.

f. Berkawan

Strategi ini berupa kolaborasi antarsiswa lintas angkatan. Seperti misalnya memasangkan siswa kelas 6 dengan kelas 1. Dengan begitu, siswa kelas 6 dapat merasa diberi tanggung jawab dan dipercaya untuk menjaga teman kecil mereka, serta belajar menjadi panutan.

3) Kemandirian

Anak-anak di Finlandia sudah terbiasa diajarkan untuk mandiri, seperti misalnya tidak diantar-jemput sekolah.

a. Mulai dengan kebebasan

Dalam buku ini, Tim memberikan contoh ketika para siswa diberikan kebebasan untuk menentukan strategi pengumpulan dana untuk kemah sekolah. Strategi ini lebih kepada memberikan tanggung jawab secara bertahap. Guru bisa memulai dengan memberikan kebebasan yang signifikan bukan larangan yang signifikan. Sekarang bukan saatnya lagi guru menjadi 'sage on the stage' atau 'bintang panggung', namun menjadi 'guide on the stage' atau pendukung yang berdiri di belakang mereka.

b. Meninggalkan batas

Strategi ini dapat dilakukan dengan cara berbicara kepada murid secara personal, bertemu dalam kelompok kecil, dan berkeliling menemui siswa.

c. Menawarkan pilihan

Hal yang perlu diingat dalam strategi ini adalah tugas seorang guru yaitu membuat hubungan antara minat siswa dan kurikulum. Contohnya dengan memberikan tugas yang lebih terbuka, misalnya untuk membuat laporan buku, siswa diperbolehkan memilih sendiri buku sesuai minat mereka.

d. Buat rencana bersama siswa anda

Strategi ini dapat dilakukan dengan cara menyusun suatu pembelajaran sepanjang minggu bersama siswa, di mana para siswa diberi suara kemudian masukan mereka digunakan untuk mempengaruhi arah pembelajaran. Ini juga dapat dilakukan dengan cara strategi instruksional dengan mengelompokkan hal yang saya Tahu (T), hal yang Mau saya tahu (M), dan hal yang saya Telah pelajari (T) atau TMT.

e. Buat jadi nyata

Di Finlandia terdapat PBL yang dinamakan 'Saya dan Kota Saya'. Dalam PBL ini, para siswa bermain peran dengan beragam profesi seperti walikota, reporter, agen penjualan dll. dalam suatu miniatur kota. Di sini para siswa mengalami secara langsung bagaimana gambaran kehidupan pada masyarakat yang sebenarnya.

f. Tuntutan tanggung jawab

Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan kualitas guru. Untuk menjadi seorang guru yang berkualitas, orang Finlandia harus memiliki gelar setara magister di bidang pendidikan kemudian dilanjutkan pelatihan selama 5 tahun untuk guru jenjang sekolah dasar. Di sana hanya memiliki sedikit universitas dengan program pengajaran.

4) Penguasaan

Salah satu bahan kebahagiaan adalah perasaan kompeten dalam area tertentu. Ada beberapa strategi untuk mengembangkan penguasaan dalam pembelajaran di dalam kelas, antara lain :

a. Ajarkan hal-hal mendasar

Di Finlandia, kurikulum dan buku paket tetap dipertahankan. Tetap bahwa kurikulum untuk melayani kegiatan, bukan sebaliknya. Yang perlu dimodifikasi adalah model pengajaran yang menginspirasi, seperti instruksi yang berbeda, ruang kelas yang responsif, dan pembelajaran berbasis proyek (PBL).

b. Gunakan buku pegangan

Ambil hal-hal baik dalam buku pegangan untuk meringankan beban perencanaan, namun jangan sampai buku paket menjadi 'majikan' yang harus diikuti seluruhnya.

c. Manfaatkan teknologi

Di Finlandia, integrasi teknologi bukanlah sebuah penekanan utama. Hanya kelas besar yang diperbolehkan membawa gawai namun mereka dapat meletakkan teknologi pada tempat yang tepat sebagai alat pembelajaran.

d. Memasukkan musik

Berdasarkan hasil penelitian di bidang Psikologi, latihan musik dapat memengaruhi sistem syaraf untuk menciptakan pelajar yang lebih baik. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan musik sebagai media pembelajaran, seperti menyanyikan lagu bersama-sama.

e. Menjadi pelatih

Strategi ini biasa dilakukan pada pembelajaran dengan metode 'Learning by doing', biasanya kelas keterampilan seperti misalnya di Finlandia terdapat kelas pertukangan. Cara terbaik untuk menguasai sesuatu adalah melalui latihan alam setting 'dunia nyata', seperti misalnya melakukan eksperimen langsung pada pelajaran IPA. Guru juga berperan seperti seorang pelatih, yang sebisa mungkin memberikan pujian namun dibatasi dan lebih menekankan pada masukan yang spesifik, jujur, dan konstruktif.

f. Buktikan pembelajaran

Strategi ini dapat dilakukan dengan evaluasi sumatif, seperti membuktikan jawaban mereka lewat pertanyaan yang sulit dan terbuka. Contoh pertanyaan : "bayangkan kamu diminta untuk mencari tahu apakah pasta gigi masuk asam atau basa. Berpikirlah seperti seorang ilmuwan, apa yang akan kamu lakukan?"

g. Mendiskusikan nilai

Di Finlandia, terdapat kebiasaan sebelum membagikan rapor di akhir semester, guru bercakap-cakap dengan setiap siswa mengenai nilai mereka. Biasanya guru akan memberitahukan nilai yang akan ditulis di rapor, kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberi tanggapan. Dalam strategi ini, siswa diajak merefleksikan pembelajaran mereka sendiri.

5) Pola Pikir

Pada bagian ini lebih fokus kepada strategi abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan) di mana ada ruang bagi setiap pengajar untuk tumbuh. Strategi ini merupakan kebalikan dari scarcity-minded (menekankan kelangkaan), di mana kemenangan seseorang akan berujung pada kekalahan orang lain. Dengan kata lain, bagian ini membahas tentang penerapan strategi 'kolaborasi' pada para pengajar bukan 'kompetisi'.

a. Mencari flow

Flow di sini artinya suatu aktivitas menyenangkan yang ketika dilakukan waktu terasa berjalan cepat. Guru dan sisswa dapat melakukan pekerjaan yang menantang, menarik, penuh tuntutan dan terarah pada tujuan. Dalam strategi ini, juga sebisa mungkin minimalkan distrakti seperti handphone atau obrolan dan pangkas budaya persaingan.

b. Berkulit tebal

Berkulit tebal di sini berarti guru harus percaya diri dengan keahliannya. Mereka juga harus tahan banting ketika mendapatkan kritik dari orang tua, dan mampu menjelaskan secara bertanggung jawab bahwa mereka adalah seorang 'ahli' di sekolah yang profesional, dan melihat dirinya seperti itu.

c. Kolaborasi lewat kopi

Guru-guru di Finlandia, sangat menekankan kolaborasi. Di waktu istirahat sambil 'ngopi' misalnya, guru-guru biasanya saling berdiskusi tentang cara meningkatkan mutu belajar mengajar.

d. Menyambut para ahli

Menyambut para ahli berarti mengundang guru lain ke kelas kita. Ini merupakan strategi yang juga menekankan kolaborasi. Guru bisa saling memberikan masukan terkait materi atau metode mengajar.

e. Melepaskan diri untuk berlibur

Para guru di Finlandia, menggunakan waktu liburan untuk benar-benar berlibur. Mereka sedikit sekali melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sekolah pada saat liburan. Mereka menggunakan waktu liburan secara profesional untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, penulis juga menyarankan bahwa liburan juga bisa dijadikan waktu terbaik untuk merefleksikan pekerjaan kita dan menemukan ide-ide baru yang menginspirasi yang dapat dimasukkan ke dalam kelas.

f. Jangan lupa bahagia

Sebenarnya kebahagiaan atau menjalani sesuatu dengan bahagia adalah inti dalam semua strategi yang dibahas dalam buku ini tentang kelas yang menyenangkan. Di beberapa negara, ada sekolah yanng mulai menerapkan semacam kurikulum kebahagiaan, yang berisi tentang life skills (keterampilan hidup) non-akademik, seperti kepenuhan diri, hubungan interpersonal, dan kesadaran diri (mindfullness).

Semoga strategi kelas yang menyenangkan ala Finlandia ini dapat menginsprirasi pendidikan Indonesia. Namun, tentunya ini tidak bisa diterapkan secara langsung dan tetap harus menyesuaikan dengan budaya di Indonesia.

Minggu, 23 Desember 2018

Memperlakukan Orang Lain sebagai Subjek, Bukan Objek



Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan orang lain untuk membantu pekerjaan kita. Namun, apakah kita menghargai orang lain tersebut hanya ketika kita membutuhkannya? Atau men-spesial-kan ia hanya karena sesuatu yang dia punya dan tidak kita punya? Lalu, bagaimana jika ada orang lain yang tidak memberikan manfaat untuk kita namun malah menyusahkan kita?

Seiring bertambahnya dewasa, bertambah angka pada umur, mungkin ini saatnya untuk kita melihat orang lain sebagai subjek. Melihat orang lain sebagai orang yang sama-sama memiliki pikiran dan perasaan. Melihat orang lain bukan karena 'ia siapa', 'ia punya apa'. Kita tidak bisa mengendalikannya hanya untuk kepentingan kita. Bertanyalah, bukan sekadar menyuruh. Ketika kita ingin menyuruh ia berbuat kebaikan, tanya dulu 'mengapa ia memilih berbuat yang tidak baik?'. Mungkin jika seperti ini, kita menjadi orang yang berempati, bukan malah sering memaki.

Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan pada orang yang membuat kita susah atau berbuat kesalahan pada kita? Apakah kita berhak memarahinya? Jika itu suatu bentuk hukuman dengan niat baik agar dia berubah, maka boleh. Namun apa jadinya jika kemarahan itu hanya suatu bentuk ungkapan dengan tujuan melepaskan amarah kita? Bagaimana jadinya bila orang itu sakit hati?

Ketika kamu menyakiti orang lain, ingatlah bahwa bisa jadi orang yang kita sakiti itu adalah orang yang paling spesial untuk keluarganya, untuk ibunya, untuk ayahnya, atau untuk kakak dan adiknya. Punya hak apa kita tidak mengurusnya tapi berani menghakiminya?

Tulisan ini merupakan sebuah ungkapan penulis yang sedang merasa 'jengah' dan teringat dengan pertanyaan dalam games mobile legend 'why people hurt each others?'. Sebagai seorang mahasiswa psikologi dan tertarik dalam psikologi sosial, penulis merasa sangat penting bagaimana kehidupan bersosial kita. Sudah seharusnya kita berbuat baik pada orang lain, karena kita pun menginginkan hal yang baik.

Di satu titik, mungkin kita pernah menyakiti orang lain dengan ketidak sengajaan. Tetaplah jangan lupa untuk meminta maaf. Perlakukanlah orang lain sebagai subjek sebagaimana kita ingin diperlakukan, bukan sebagai objek yang kita butuhkan karena apa yang ia punya.

Sebagai seorang Muslim, lihatlah bahwa Rasulullah SAW. pun mencontohkan bagaimana mulianya akhlak yang ia tampilkan dalam kehidupan. Setiap orang yang berjumpa dengannya selalu merasa sebagai orang yang paling di-spesial-kan olehnya. Ketika melihat orang yang berbuat kesalahan, Rasulullah bukan menghakiminya. Tapi justru kasihan melihatnya, meminta agar Allah memberikan hidayah untuknya. Semoga kita diberi kekuatan hati agar bisa menjadi orang baik di mana pun dan pada siapa pun. Baik yang tidak hanya kita tampilkan di luar, tetapi kebaikan dari hati yang terdalam dan memancar ke luar.

Kontrol Diri dari Dalam, Rendah Hati pada Alam

Tulisan ini akan lebih banyak bicara refleksi diri, Tentang keberadaan diri yang kadang lupa diri, Tinggal bersama alam namun kita seakan...